"Sekarang aku ikutan blablabla..." ujar seorang teman.
"Oh, ya? Hm... dapet apa? Ada duitnya, gak? Hihihi."
Kesan yang tersurat memang saya ini "matrealistis" banget. Tapi mau gimana lagi, saya cuma malas kalo harus kembali ke masa-masa sulit seperti dulu. Di mana saya hanya bisa menangis kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa melihat kesusahan ortu, sodara-sodara, dan bahkan orang-orang di sekeliling saya, dari segi materi, terlebih kalo kondisi susah itu tercipta karena sebab diri saya. Hal itulah yang kemudian memotifasi saya untuk menjadi seorang "matrealistis", menjaga jara sejauh mungkin dar segala sesuatu yang bisa menyita sebagian besar waktu saya, namun sekiranya tak menghasilkan feedback yang sepadan dengan apa yang saya lakukan.