Tampilkan postingan dengan label Wiraswasta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wiraswasta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Juli 2013

Tidak Ingin Harfeey Jadi Penerbit Major

Sudah lama saya gak curhat di blog, walau sebenernya ada banyak sekali unek-unek yang mau saya ceritakan pada diri sendiri (heh? menyedihkan sekali... hehe). Tapi sekarang saya memaksakan diri untuk kembali membuang sampah pada tempat yang semestinya--Dunia Rumput Liar. Well, sekarang ini bisa dibilang (akan) menjadi hari-hari tersibuk bagi saya. Masa untuk cetak buku sudah di depan mata, dan saya harus mempersiapkan diri untuk berlelah-lelah (lagi dan selalu) pada dua minggu ke depan sebelum jadwal mudik yang saya canangkan pada 2 Agustus besok (udah gak kuat, pengen pulang banget, Mak :(...). Mungkin untuk masa di bulan ini rasa lelahnya bakal berkali lipat, selain karena lagi puasa juga karena saya gak yakin kalo Dudull bakal mau bantu saya (bentar lagi Lebaran, Bok). Apalagi sekarang, dengan mengkambinghitamkan BBM, deengan ssemena-menanya pihak percetakan menaikkan tarif cetak yang bikin ngurut dada sampe dengkul. But, itu pikirkan nanti aja, sekarang saatnya membahas salah satu passion "menyimpang" saya yang notabene-nya seorang Direktur Utama (siul-siul cantik)--merangkap babu serbaguna T_T-- di Penerbit Harfeey.

Minggu, 30 Juni 2013

Berjumpa Passion Berkat Comblangan dari Teknologi

Ketika kita melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang menjadi passion/gairah, tentu hasil yang dicapai pun akan lebih maksimal. Dan butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk bisa mencari apa sebenarnya passion saya, serta bagaimana cara untuk mewujudkan passion yang kadang kerap dianggap sebagai bentuk keidealismean berlebih oleh beberapa pihak yang kontra.

Banyak hal yang saya coba untuk lakukan sebelum akhirnya benar-benar berjodoh dengan sesuatu yang kemudian saya yakini sebagai passion hidup saya, terutama dalam berbisnis. Ketika itu, saya benar-benar yakin bahwa saya adalah orang yang amat sangat payah jika harus bekerja di bawah perintah orang lain. Terbukti dengan berbagai "prestasi" kegagalan yang saya dulang berkat ketidakberhasilan saya untuk mengizinkan ada telunjuk selain milik saya yang memerintah. Yah, selepas SMA saya memutuskan untuk rehat 1 tahun dan menunda melanjutkan kuliah, meski saat itu saya telah mengantongi 1 beasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Cirebon.

Rabu, 26 Juni 2013

Aku Jatuh untuk Bangun

23-11-2012

Ketika menjejakkan kaki tepat pada angka usia kepala dua, dengan tegas naluriku bergumam, “Selamat datang, tanggungjawab dan kerja keras”.

Aku tidak terlahir dari keluarga yang sangat berkekurangan, sehingga keadaan mendesakku untuk dewasa lebih dini dalam memikirkan perihal apa yang bisa kumakan besok. Namun aku terdidik oleh keluarga yang beranggapan bahwa kerja keras dan kemandirian adalah bagian dari kehormatan. Hidupku adalah tanggung jawabku sendiri, bukan tanggungjawab orangtua atau siapa pun.

Tekad itu semakin bulat, ketika pada bulan yang sama, aku yang merupakan mahasiswi rantau di Yogyakarta tengah menikmati masa liburan di rumah, menyaksikan langsung bagaimana terpusing-pusingnya ibuku (typikal orang kampung yang tidak pernah memiliki uang tunai karena mereka biasa menginvestasikan rizky berupa tanah atau sawah) harus mencari dana yang tidak bisa dikatakan sedikit untuk bekalku kembali ke perantauan dan membayar kost serta daftar ulang kuliah.

Aku menangis di kamar begitu menyadari bahwa di usia yang tak lagi terkatakan kanak-kanak ini, aku masih saja menjadi “benalu” bagi orangtuaku yang renta. Lebih sesak dan serasa ditampar lagi ketika akhirnya ibu membatalkan pinjaman dari tante karena adikku yang memang sudah bekerja mengirimkan sejumlah uang, cukup untuk ongkos dan bekal segala keperluanku menuju Jogja. Di mana harga diriku? Bahkan orang yang terlahir setelahku saja bisa lebih berguna bagi orangtua untuk meringankan beban mereka yang ditimbulkan olehku.

Selasa, 25 Juni 2013

Aku Bukan Orang Baik

Ketika ada orang yang membenciku, kupikir dia belum mengenalku lebih jauh. Mengenal aku sebagaimana “wujud asliku”, bukan sekadar mengenal dari sudut kiri atau satu sudut yang lainnya saja. Karena aku bukan orang baik, aku kerap hidup sesukaku, dengan cara dan dalam kedamaian “dunia” yang kuciptakan sendiri. Telunjukku akan tetap menjadi titah tertinggi dalam menentukan arah hidup bagi diriku. Telunjukku adalah pemeran utama, sekalipun hanya untuk memerintah diriku sendiri.

      Seorang teman penulis yang kali pertama bertemu raga denganku langsung menyadari “kelainanku”, “Bolin kalo di facebook kesannya ceriwis banget, tapi aslinya kalem gini, ya. Diem, gak banyak omong.” Aku hanya meringis, memamerkan senyum simetrisku. Aku pandai menipu, bukan? Tentu saja, karena aku bukan orang baik.

      Bagiku, hidup adalah sekolah yang tak pernah mengenal kata lulus. Dalam setiap perjalanannya, aku harus bisa fight dan konsisten dengan apa yang telah dan akan aku gapai. Aku telah memutuskan untuk menjadi dewasa, yah... sekalipun aku bukan orang baik. Namun justru karena bukan orang baik, lah, maka aku memiliki percikan rasa gengsi jika masih harus menggantungkan hidup di pundak orang lain, meski itu orangtuaku sendiri. Terkadang aku sedikit merasa beruntung telah mendapat mandat tak langsung dari Tuhan untuk mengemban tugas sebagai bukan orang baik, dengan “bekal” itu aku merasa lebih siap untuk hidup, menapakkan kaki-kaki kecilku pada pertarungan di dunia luar yang kuyakini betul begitu liar.

Minggu, 23 Juni 2013

Saya Memang Matrealistis

"Sekarang aku ikutan blablabla..." ujar seorang teman.
"Oh, ya? Hm... dapet apa? Ada duitnya, gak? Hihihi."

Kesan yang tersurat memang saya ini "matrealistis" banget. Tapi mau gimana lagi, saya cuma malas kalo harus kembali ke masa-masa sulit seperti dulu. Di mana saya hanya bisa menangis kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa melihat kesusahan ortu, sodara-sodara, dan bahkan orang-orang di sekeliling saya, dari segi materi, terlebih kalo kondisi susah itu tercipta karena sebab diri saya. Hal itulah yang kemudian memotifasi saya untuk menjadi seorang "matrealistis", menjaga jara sejauh mungkin dar segala sesuatu yang bisa menyita sebagian besar waktu saya, namun sekiranya tak menghasilkan feedback yang sepadan dengan apa yang saya lakukan.

Minggu, 16 Juni 2013

Cara Mudah Membuka Usaha Penerbitan Buku Indie

28 Mei 2012, tengah malam yang belum bisa dikatakan larut, tiba-tiba suatu ide yang kupikir cukup cemerlang, melintas di otakku. Bukan hanya sekedar permisi numpang lewat, ide itu akhirnya aku cetuskan dan realisasikan langsung pada keesokan harinya.
Membuka jasa penerbitan buku indie. Yah, usaha itulah yang berhasil menggagahi alam pikiranku semalaman suntuk. Aku mulai memperhitungkan untuk “berjudi” dengan membuka usaha tersebut, setelah aku mulai merasakan jenuh dan lelah pada bisnis penjualan baju online yang 2 bulan terakhir kugeluti. Aku mulai menggali potensiku, untuk menjadikan hobi sebagai lahan bisnis.
Banyak orang yang heran dan merasa “wah” (baca: kagum) waktu tau kalo mahasiswi rantau yang baru menjejak angka kepala dua ini bisa menekuni side job di luar jalur side job normal yang biasa digeluti pelajar rantau lainnya. Tapi, kalo kamu tau cara-caranya, aku yakin, kamu sendiri juga bisa seperti aku (bahkan lebih).
Satu hal yang pasti, membuka penerbitan buku indie TIDAK HARUS PUNYA KANTOR. Yaph, betul. Karena aku sendiri sudah membuktikan, ruang kamar kost-ku yang cuma berlahan 3×3 meter ini, ternyata mampu menyangga tubuhku selama hampir 24 jam guna melakoni usaha penerbitan buku indie. Dari mulai penggarapan naskah, hingga pengiriman paket buku yang sudah dipesan.
Oke, langsung aja…

1st; Sebuah Perjalanan dalam Penggapaian Mimpi

Allahu Akbar, Subhanallah, Alhamdulillah....
Semula saya tidak menyangka akan bisa menapak pada angka PERTAMA ini dengan prestasi yang menurut kapasitas saya pribadi cukup gemilang dan membanggakan. Pikiran saya sempat melanglang pada tanggal yang sama dan jam yang sudah bisa terbilang larut, saya yang sebelumnya memang sedang dalam proses “mendewasakan diri” dengan cara berjualan apa pun yang penting halal via online, mulai berpikir untuk ikut berkontribusi pada bidang usaha yang sebenarnya menjadi hobi saya juga. Bukan karena usaha penjualan online saya sebelumnya bangkrut atau tidak menghansilkan, malah saya sangat bersyukur pada allah yang saya rasa teramat sangat baik pada saya yang tak baik ini. Allah selalu memudahkan setiap rintisan usaha saya, namun karena sesuatu hal saya menanggalkan usaha-usaha sebelumnya demi serius di bidang usaha penerbitan ini.

Impian yang tercetus pada sekitar pukul 11 malam tanggal 27 Mei 2012 itu, kemudian langsung saya realisasikan keesokan harinya. Hal pertama yang saya lakukan adalah meminta adik saya yang berada di Jakarta (saya di Yogyakarta) untuk membuat design logo dengan nama Harfeey (baca; Harfy),
© Born to be "Antagonis" 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis