Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Desember 2013

Puisi: Ruang Rindu

Meretas rindu dalam gulana
Tersangsikan rasa ini 'kan bersambut, 'kan terpaut...
Aku dan kamu; berjarak. 

Selasa, 24 Desember 2013

Puisi: Biarkan

Tak usah kamu hirau apa yang menjadi harapku

Namun jangan pernah menghadang tekadku untuk menaruh kekaguman akanmu dalam senyap hatiku yang kian menyeruak. 
Biarkan aku bermain dengan khayalan indah tentangmu
Yah... kamu hanya akan ada dalam imajinasiku, dan itu takkan menyakiti hati gadismu kini
Acuhkan keberadaanku, tapi jangan larang setiap ejaan lafadz cinta yang lamat-lamat terlantun dalam lamunku di setiap senja, tentangmu... tentang masa lalu dan rencana indah akan masa depan kita
Jangan hakimi hatiku yang tetap menyakini bahwa tahta itu, tempat istimewa di palung hatimu, masih terposisikan untukku
Biarkan... tolong biarkan saja... 
Biarkan aku menikmati bahagia dengan caraku
Meyakini bahwa dalam ketiadaanmu, nyata kamu tetap memantauku dari jauh. 
Aku cukup tau dirimu, cukup dalam telah kuselami samudera hatimu
Satu keyakinan yang terpatri jelas di hati dan ingatanku, selamanya kamu tak mungkin tega memaling diri dariku

Puisi: Lelaki Setahun Lalu

Hey, sudahlah...

Tak perlu kamu mengutus sekian prajurit untuk menohok jantungku dengan tombak kata yang sama. 
Iya... iya... iyaaa... 
Aku telah cukup mengerti dan tau diri, bahwa tak tersisa lagi sedikit celah pun untuk kuselinap
Tak akan lagi aku berkhayal menjadi gadismu yang teristimewa
Aku tau kamu terlalu lelah untuk menyambutku dalam kidung duka
Hingga akhirnya kuakui jika jiwa ini tlah terberai mencari sosok sehangatmu
Yang selalu menerimaku dengan rentangan tangan dan lantunan kata melenakan
Aku merindumu... 
Entah mengapa hadirmu begitu terasa kuat untuk ingin kudekap justru selalu di saat-saat seperti ini
Saat di mana aku menyadari benar kebobrokan hatiku yang pernah tak memilihmu
Dan kini, saat kumeyakini sepenuh harap jika kita adalah insan yang tertakdir untuk tak terpisahkan, kamu justru merentangkan jurang pemisah di antara kita
Kenapa tidak kamu tutup saja jalannya, agar aku tak sakit melihatmu bersama dia
Merindumu, untuk masa setahun lalu...

Selasa, 19 November 2013

Buku Baru Bulan Oktober; Solo & Antologi

Nananina~ yaya, emang telat banget baru di-posting sekarang info tentang buku terbit bulan kemaren. Mau gimana lagi, feel nge-blog-nya baru nyamber sekarang-sekarang ini. :D


Oke, langsung aja.... Saya mau ngasih unjuk alias pamerin buku-buku cihuy nan aduhai yang alhamdulillah berhasil saya dan Penerbit Harfeey garap di bulan Oktober kemarin. Cover-nya unyu-unyu semua. :*

Oktober lalu, Harfeey menerbitkan totalnya 16 judul buku. Dengan spesifikasi 7 buku merupakan hasil dari saringan naskah pada event menulis yang saya adakan, dan sisanya adalah buku solo kiriman dari penulis untuk diterbitkan di Harfeey.

Berikut saya infokan list judul & link info lengkap tentang masing-masing bukunya:

  1. My Enemy
  2. And Family Pie
  3. Dongeng Cinderella #1
  4. Dongeng Cinderella #2
  5. My Love #1
  6. My Love #2
  7. Airmata di Lawang Sewu 
  8. English Vocabulary Test & English Quizzes 
  9. My Friend #1
  10. My Friend #2
  11. Kelabu di Kalbuku
  12. Batalyon Abstrak
  13. Koffee Manis
  14. My Facebook
  15. Red Blood Shot Eyes
  16. Snow Love in Seoul
Buat yang mau order, silakan langsung klik di judulnya aja, ya. Thank you. :)

Sabtu, 16 November 2013

Puisi; (Gingsul) Persepsi Mereka

Disclaimer: Pernah diikutkan lomba bersama Dokter Gigi (kalo gak salah, lupa) dan keluar sebagai juara 1


Bergerigi gigi gemerigi
Terbilang gingsul, ternampak manis
Pelengkap gurat pintalan senyum
Mereka mendakwa gingsulku aib
Hingga seutas benang dijadikannya senjata pencabut nyawa
Gingsulku sayang, bernasib malang
Tercerabut paksa dari kekar akarnya
Tak miliki dosa, malah ternampak memaniskan
Namun yang menjadi kata mereka, telah menjadi hakim utama
Gingsulku mati terbunuh persepsi

Selasa, 12 November 2013

Detik Terakhir Keremajaan

Curcolan ini ditulis beberapa hari menjelang usia 20 tahun. Tulisan aslinya ada di sini. Xoxo *Ngumpet*
***

Aku terlalu malu untuk menyadari, atau mungkin enggan mengakui bahwa usiaku sudah tidak mau menunggu lagi untuk tetap bergumul bersama ego yang kian memuncak untuk dihasrati. 

Kurang dari satu Minggu lagi, itu waktu yang tersisa bagiku untuk memuaskan dahaga kekanak-kanakanku. Dan setelahnya, aku harus menegaskan diriku bahwa kini hidup bukan lagi permainan. 

Di dua puluh nanti, saat aku menanggalkan jubah belasan, nahkoda hidup bagi diri dalam melarung setiap keputusan akan sepenuhnya ada dalam kendaliku. 

I'M NOT A GIRL NOT YET A WOMAN! 

Dan mestinya bukan hanya sekadar koar-koar semboyan tak berbuah, semampuku harus bisa merapalkannya dalam aksiku setelah ini. 

Dua puluh, angka yang mengharuskanku berpijak pada tumit kakiku sendiri. Tidak ada lagi alasan untuk menengadah dan minta perlindungan di balik ketiak orangtua. 

Yah... seharusnya memang begitu. 
Apa aku mampu mengaksikan asaku? 
Kita lihat saja nanti... 


*) Menjelang dewasa ;'>

Sabtu, 20 Juli 2013

Terdidik Angin

Kulucuti setiap penggalan kalimat yang menumbangkan asaku
Menggantinya dengan sesapan semangat dari gerik rumput liar
Aku ingin merdeka
Aku ingin serupa dia
Bagaiman dipasrahkannya hidup
Untuk bergelut seirama gemulai kesiur angin
Aku ingin bebas
Aku ingin lepas
Seperti berbatang rumput liar
Yang mampu hidup dari dan untuk dirinya sendiri
Mendiktekan makna pendidikan yang sebenarnya pada otak tumpulku
Angin adalah guru terbaik
Untuk melakoni hidup yang penuh dijejali oleh dinamika
© Born to be "Antagonis" 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis