Selasa, 12 November 2013

Detik Terakhir Keremajaan

Curcolan ini ditulis beberapa hari menjelang usia 20 tahun. Tulisan aslinya ada di sini. Xoxo *Ngumpet*
***

Aku terlalu malu untuk menyadari, atau mungkin enggan mengakui bahwa usiaku sudah tidak mau menunggu lagi untuk tetap bergumul bersama ego yang kian memuncak untuk dihasrati. 

Kurang dari satu Minggu lagi, itu waktu yang tersisa bagiku untuk memuaskan dahaga kekanak-kanakanku. Dan setelahnya, aku harus menegaskan diriku bahwa kini hidup bukan lagi permainan. 

Di dua puluh nanti, saat aku menanggalkan jubah belasan, nahkoda hidup bagi diri dalam melarung setiap keputusan akan sepenuhnya ada dalam kendaliku. 

I'M NOT A GIRL NOT YET A WOMAN! 

Dan mestinya bukan hanya sekadar koar-koar semboyan tak berbuah, semampuku harus bisa merapalkannya dalam aksiku setelah ini. 

Dua puluh, angka yang mengharuskanku berpijak pada tumit kakiku sendiri. Tidak ada lagi alasan untuk menengadah dan minta perlindungan di balik ketiak orangtua. 

Yah... seharusnya memang begitu. 
Apa aku mampu mengaksikan asaku? 
Kita lihat saja nanti... 


*) Menjelang dewasa ;'>

Senin, 11 November 2013

Cernak: Mantra

Hari pertama sekolah, Nika dibawakan bekal makanan oleh Bunda. Nika pun berniat untuk menyantapnya di taman sekolah bersama Dea, Mela, Neng, Riva, Hiro, dan Rizal, teman-teman barunya di sekolah.

“Kalian bawa bekal makanan apa?” Tanya Nika sambil membuka kotak bekal makanannya.
“Aku dibawain nasi goreng spesial buatan mamaku!” Jawab Rizal bersemangat.
“Kalo aku nasi uduk buatan Bibi.” Ujar Riva memperlihatkan bekal makannya.

Lalu mereka pun saling memperlihatkan bekal masing-masing, sambil tidak ketinggalan untuk saling mencicipi bekal satu sama lain.



Neng yang hari itu dibekali nasi putih dan nugget kesukaannya, terlihat makan dengan malas-malasan.

“Kamu kenapa, Neng?” tanya Hiro penasaran sambil meneguk air dari termos kecil yang dibawanya.
“Tumben. Kok, masakan ibuku nggak enak gini, ya?” tutur Neng dengan wajah bingung.
“Sama! Aku juga ngerasa bekal makananku nggak seenak makanan yang biasa aku santap di rumah.” Dea menimpali.

Ternyata yang lain pun turut mengamini. Mereka jadi kurang bersemangat untuk menghabiskan bekal makanannya. Dengan wajah serius, mereka berusaha memecahkan misteri bumbu apa yang kurang dari bekal makanan-makananan mereka, sehingga rasanya tidak sesedap biasa.

Namun, hingga bel masuk kelas berbunyi pertanda waktu istirahat telah usai, tak satu pun misteri bumbu yang kurang berhasil mereka pecahkan. Nika, Dea, Neng, Mela, Riva, Rizal, dan Hiro pun masuk ke dalam kelas dan kembali mengikuti pelajaran dengan hati penasaran. Tapi mereka bertekad akan bertanya pada ibu dan pembantu masing-masing, agar besok misteri kurang sedapnya bekal makanan mereka dapat terpecahkan.
*
“Bundaaa... Nika pulaaang!” Seru Nika saat memasuki gerbang rumah sambil berlari riang. Bunda yang sedang membuat kerajinan tangan pun langsung menyambutnya.
“Eeeh... anak Bunda baru dateng sekolah, kok, malah teriak-teriak, sih? Ayo, harusnya ngucapin apa?” Tanya Bunda mengingatkan sambil membantu Nika untuk melepas sepatunya.
“Hehehe... Assalamu’alaikum, Bundaaa...” ucap Nika tersipu karena lagi-lagi kelupaan. Setelah mencium tangan dan pipi Bunda, Nika pun bergegas masuk ke dalam rumah. Tapi tidak lama kemudian setelah berganti pakaian, Nika kembali lagi menghampiri Bunda yang masih ada di teras.

“Bunda, Nika mau tanya,” kata Nika sambil menjinjing tas sekolahnya.
“Tanya apa, Nak? Ada PR yang susah?” tanya Bunda sambil merapikan bahan-bahan untuk kerajinan tangannya, dan memasukkannya satu persatu ke dalam kotak.
Ditanya begitu, Nika pun langsung menggeleng kuat-kuat. Lalu Nika duduk di samping Bunda dan membantu memasukkan bahan-bahan kerajinan tangan milik Bunda.
“Kalo bukan PR yang susah, terus Nika cantik mau nanya apa?” tanya Bunda lagi sambil tersenyum.

Nika pun berhenti sejenak membantu Bunda mengemasi kerajinan tangannya, lalu mengeluarkan sesuatu dari tas sekolah yang sedari tadi dipeluknya. Ternyata yang Nika keluarkan adalah kotak bekal makanannya.
“Bunda...” panggil Nika ragu-ragu.
“Iya, kenapa, Sayang?” jawab Bunda lembut dan langsung memperhatikan Nika karena sekarang semua benda-benda kerajinan tangan karya Bunda sudah rapi di dalam kotak.
“Nika mau tanya, tapi Bunda jangan tersinggung atau marah, ya...” pinta Nika dengan wajah serius, matanya yang sipit mengerjap-ngerjap lucu. Bunda pun mencubit kedua pipi tembem Nika.
“Ya nggak, lah. Masa Bunda marah, sih?” Jawab Bunda tersenyum.
“Hehehe... janji, ya, Bunda nggak marah?” Nika masih berusaha memastikan.
“Iya, Bunda janji, anak manis!” Ujar Bunda sambil mengacungkan jari tengah dan telunjuk pada tangan kanannya, kemudian Nika dan Bunda pun tertawa.

“Ayo, mau nanya apa?” kata Bunda lagi.
“Mmm... gini, Bund,” Nika masih terlihat ragu-ragu. Bunda tersenyum sambil merapikan poni yang menutupi sebagian kening Nika.
“Bekal makanan Nika yang Bunda bawain, kok, nggak seenak biasanya, sih, Bund? Ehm, maksud Nika bukannya nggak enak, tapi rasanya nggak seenak biasanya, gitu, Bund. Bunda ngerti, kan?” Tanya Nika hati-hati karena takut Bunda akan tersinggung.

Bunda mengernyitkan dahinya sejenak, kemudian bertanya sambil tetap tersenyum. Melihat senyum Bunda, Nika pun menjadi lega karena ternyata Bunda tidak tersinggung apalagi marah mendengar pertanyaannya.

“Nika makannya dicampur sama jajanan, ya?” tanya Bunda. Nika menggeleng karena selama ini Nika memang tidak pernah jajan di luar. Selain karena jajanan luar kurang higienis, uang saku dari Bunda pun Nika masukkan ke dalam celengan bambunya.
Bunda berpikir sejenak. “Hhhm, coba sekarang Bunda mau liat, Nika cara makan bekalnya tadi gimana?”

Nika mengangguk dan membuka kotak bekal makanannya, lalu langsung menyantap makanan itu beberapa suap. Akhirnya Bunda tersenyum dan geleng-geleng kepala.

“Pantesan aja rasa makanannya jadi kurang sedap, Nika nggak baca mantra sebelum makan dulu, sih.” Tutur Bunda. Nika menatap bingung.
“Mantra apa, Bunda?”
“Mantra supaya makanan yang dimakan Nika terasa enak dan juga mengenyangkan. Selain itu, kalo Nika baca mantra sebelum makan, makanan yang Nika telan akan lebih barokah dan bernilai pahala, Nak.” Jelas Bunda.

Bunda pun mengajari Nika mantra sebelum makan. Tak lupa Bunda menuliskannya di buku catatan Nika agar bisa dihapal dan dibaca sewaktu-waktu.
*
Keesokan harinya saat istirahat di sekolah, Nika kembali berkumpul bersama teman-temannya. Dengan bersemangat Nika menceritakan mantra sebelum makan yang diajarkan Bunda.

“Pas udah baca mantranya, bekal makanan Nika jadi terasa enak, loh!” Ujar Nika, teman-teman pun penasaran dan minta diajari sebelum mereka menyantap bekal makanannya.
“Ayo, kita baca mantranya sama-sama!” Ajak Nika sambil membuka buku catatannya yang berisi mantra tulisan Bunda. Mereka pun membacanya dengan keras-keras.
Bismillahirrahmaanirrahiim... Allahumma baariklanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa adzaa bannaar... Aamiin!”

Selesai membaca mantra, mereka langsung menyantap bekalnya masing-masing. Hiro langsung berseru girang.
“Mantra ajaib! Bekal makanku jadi enak banget!”
“Iya, aku juga!” Sambung Riva.

Anak-anak shaleh itu tertawa senang sambil bertukar makanan dan menyantapnya dengan lahap.



Sebuah Perjalanan dalam Penggapaian Mimpi

Tulisan ini pernah saya ikutkan dalam lomba blog di Kompasiana, dan alhamdulillah keluar sebagai salah satu pemenang dari ratusan naskah yang masuk.
***
Ketika kita melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang menjadi passion/gairah, tentu hasil yang dicapai pun akan lebih maksimal. Dan butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk bisa mencari apa sebenarnya passion saya, serta bagaimana cara untuk mewujudkan passion yang kadang kerap dianggap sebagai bentuk keidealismean berlebih oleh beberapa pihak yang kontra.

Banyak hal yang saya coba untuk lakukan sebelum akhirnya benar-benar berjodoh dengan sesuatu yang kemudian saya yakini sebagai passion hidup saya, terutama dalam berbisnis. Ketika itu, saya benar-benar yakin bahwa saya adalah orang yang amat sangat payah jika harus bekerja di bawah perintah orang lain. Terbukti dengan berbagai “prestasi” kegagalan yang saya dulang berkat ketidakberhasilan saya untuk mengizinkan ada telunjuk selain milik saya yang memerintah. Yah, selepas SMA saya memutuskan untuk rehat 1 tahun dan menunda melanjutkan kuliah, meski saat itu saya telah mengantongi 1 beasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Cirebon.

Demi mengisi keluangan waktu tersebut, saya mencoba bekerja apa pun asalkan bisa menghasilkan uang. Pertama, saya bekerja di salah satu perusahaan asing di Bandung sebagai tenaga packing barang. Pekerjaan tersebut hanya mampu bertahan hingga kali pertama saya menerima gaji, tepatnya hanya 2 minggu saya bertahan untuk bekerja di perusahaan yang konon katanya cukup ketat dalam menyeleksi pegawai itu. Hal paling utama yang melatarbelakangi keputusan saya untuk hengkang dari pekerjaan yang baru seumur jagung dijalani tersebut, karena saya merasa kurang dimanusiakan oleh sesama pegawai yang kebetulan lebih dulu bekerja di sana ketimbang saya. Sulit menerima saat barang yang telah susah payah saya packing, lantas seenaknya dilemparkan ke wajah saya karena menurutnya hasil kerja saya kurang rapi.

Selepas mengemban status sebagai mantan pegawai perusahaan tersebut, kemudian saya mencoba bekerja di perusahaan yang nyaris serupa, namun kini di bidang quality control. Suasana dan lingkungan kerja yang ramah, nyaman, serta tanggungjawab kerja yang tidak terbilang berat, ternyata masih belum mampu juga membuat saya untuk sudi bertahan paling tidak hingga 1 bulan masa kerja. Well, saya kembali mengundurkan diri pada hari ke-26 saya bekerja, dengan alasan utama gaji yang kurang bisa menutupi apa yang telah saya keluarkan.

Setelah 2 kali gagal bekerja di perusahaan Bandung, lantas saya memutuskan untuk mencari peruntungan di Tangerang. Sekian belas surat lamaran saya tebar ke berbagai perusahaan, bahkan saya sampai rela naik-turun angkot, ojek, hingga bahkan berjalan kaki setiap harinya selama mencari pekerjaan dari satu tempat ke tempat lain. Namun ternyata Tuhan masih belum berkehendak jika saya harus bekerja d jalur ini—jalur sebagai pegawai. Selalu ada kendala yang saya dapatkan, mulai dari telat hadir pada interview lanjutan akibat dari miss communication, hingga tertolak dengan paksanya saya karena enggan melepas jilbab—yang dalam keseharian selalu saya pakai—agar dapat bekerja di perusahaan yang memerlukan wanita berpenampilan menarik untuk menjadi pegawainya.

Merasa cukup gagal untuk merintis karir di rantau, saya kembali ke haribaan Ibu di kampung halaman Majalengka, dan terpaksa harus menerima apa pun keputusan dari ayah saya untuk keberlangsungan aktifitas hidup saya selama dalam masa penantian tahun ajaran baru perkuliahan. Akhirnya saya menuruti kemauan orangtua untuk mengisi waktu luang dengan hal yang lebih bermanfaat dibanding tidur-tiduran. Saya mulai membantu mengajar anak-anak usia 5-7 tahun di TPA/TPQ milik kerabat saya.

Well, setelah dijalani, pekerjaan ini terbilang tidak menyita waktu saya sama sekali, justru malah membuat saya bisa menebar manfaat untuk anak-anak didik saya. Bahkan, dengan menjalani kegiatan yang tidak sampai menyita 3 jam dari waktu yang saya miliki perharinya itu, sedikit banyak mampu menggiring saya menuju passionyang selama ini saya cari; menulis. Yah, meski menulis bukanlah hal yang baru bagi saya yang sejak SD hingga SMA sudah memiliki masing-masing satu buku berisi kumpulan puisi, kumpulan cerpen, bahkan hingga novel serial yang meski keseluruhannya hanya saya tulis tangan di buku catatan, namun kali ini saya menemukan sesuatu yang tidak hanya sekadar wadah penyaluran hobi, tapi bisa menjadi pemasukan finansial bagi saya.

Bermula dari keisengan saya membuka salah satu catatan facebook yang di-tag-kan oleh salah seorang teman, akhirnya membawa saya untuk turut keranjingan mengekor apa yang dia lakukan; mengikuti berbagai lomba kepenulisan di facebook. Berhubung ketika itu saya belum memiliki perangkat komputer jenis apa pun, lantas mau tak mau saya hanya bisa memanfaatkan cara manual; menuliskan cerita saya di buku catatan terlebih dahulu. Dan untuk menghemat biaya tarif warnet jika saya menyalin tulisannya langsung—sebab pengiriman naskah lomba melalui email ke panitia—maka saya mengetik tulisan saya tersebut di note facebook yang di-set private dengan menggunakan ponsel (jangan tanya bagaimana keramnya jemari saya), kemudian barulah saya pergi ke warnet untuk meng-copy-paste-nya di microsoft word sekaligus mengatur format penulisannya, setelahnya langsung mengirimkan naskah tersebut keemail panitia.

Semula orientasi saya dalam menekuni kegiatan yang terbilang baru tersebut bukanlah uang, melainkan just for fun, itung-itung sebagai media penawar rasa jenuh bagi saya yang memang type anak rumahan sekali jika sedang berada di kampung halaman. Namun lama kelamaan—terutama saat saya mulai memasuki tahun perkuliahan di rantau Yogyakarta—saya mulai sedikit “perhitungan” dengan hobi tersebut.

Berawal dari dorongan orangtua dan saudara-saudara yang meminta saya untuk mencari side job yang paling tidak bisa sedikit saja hasilnya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan saya selama di rantau, akhirnya otak saya mulai berpikir serius tentang jenis pekerjaan apa yang sekiranya layak untuk orang dengan type seperti saya. Saran untuk melamar pekerjaan sebagai penjaga toko, penjaga warnet, dan sejenisnya dari keluarga saya coret mentah-mentah dari daftar pekerjaan yang layak bagi saya. Sebab sudah dapat ditebak akhirnya jika saya memaksakan diri untuk bekerja di bawah perintah ketat orang lain lagi, dengan penghasilan yang menurut saya tidak pernah bisa sesuai dengan apa yang telah saya lakukan. Well, sebutlah saya adalah orang dengan tingkat kenarsisan begitu tinggi, yang kerap merasa bahwa saya—dengan segala keistimewaan bakat yang Tuhan berikan—berhak dan teramat pantas untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang bisa mereka berikan kepada saya.

Berkaca pada type saya yang sulit menerima perintah dan sulit merasa puas dengan apa yang mereka berikan sebagai bentuk penghargaan, maka saya memutuskan untuk berwirausaha. Jenis usaha pertama yang saya lakukan adalah menyewakan buku-buku koleksi saya yang diperoleh dari hadiah lomba-lomba menulis yang telah saya ikuti. Meski tidak terbilang gagal, namun nyatanya usaha ini tidak bisa membantu banyak bagi perekonomian saya. Dan yang pasti saya belum bisa menunjukkan apa-apa untuk meyakinkan pada keluarga bahwa saya mampu menuai hasil dengan cara saya sendiri, sesuai dengan sesuatu yang saya sebut passion. Kemudian saya beralih pada jenis usaha penjualan buku-buku dan batik secara online, dengan memanfaatkan pangsa pasar facebook saya yang terbilang luas, dan kemudahan dalam memperoleh barang yang saya jualkan tersebut dari kawasan pasar Malioboro dan sekitarnya di Jogja.
1377980050443491438
Perjalanan menuju Pasar Malioboro
Penghasilan saya memang terbilang cukup fantastis untuk kapasitas keluarga kami, namun lagi-lagi itu masih belum cukup menuntaskan hasrat saya yang kerap merasa bahwa saya berhak dan pasti bisa untuk memperoleh sesuatu yang lebih dari itu. Terlebih penghasilan tersebut baru mampu untuk saya gunakan dalam pemenuhan kebutuhan pribadi saja, belum bisa ikut saya cicipkan bagi keluarga dan orang lain. Selain itu, kendala dari jauhnya jarak antara pasar dan tempat kost saya yang biasanya saya tempuh hanya menggunakan sepeda onthel, juga kesulitan saya dalam mempromosikan produk saya secara rutin sebab saat itu saya belum memiliki komputer juga—hingga harus bolak-balik warnet atau perpustakaan kampus untuk akses komputer dan internet gratis—menjadi beberapa alasan saya untuk kembali mencari bidang usaha lain yang benar-benar passion saya.

Dan pada akhir Mei tahun lalu, saya berhasil menemukan serpihan passion saya yang lain. Tercetuslah ide besar untuk menjadikan hobi yang selama ini digeluti sebagai lahan bisnis yang sekiranya mampu menghasilkan fee jutaan rupiah atau paling tidak setara dengan mereka yang bekerja di bawah perintah, meski pekerjaan itu hanya saya lakoni di balik balutan selimut kumal. Lahirlah usaha penerbitan buku indie—Penerbit Harfeey.Impian yang tercetus pada sekitar pukul 11 malam tanggal 27 Mei 2012 itu, kemudian langsung saya realisasikan keesokan harinya. Hal pertama yang saya lakukan adalah meminta adik saya yang berada di Jakarta (saya di Yogyakarta) untuk membuat design logo.
1377979456210368272
Logo Penerbit Harfeey
Harfeey (baca: Harfy) saya ambil dari singkatan nama kedua orangtua saya, dengan harapan agar usaha ini dapat mendulang berkah dan kesuksesan dari Tuhan YME.Makna dari logo tersebut ialah, gambar buku sebagai simbol bahwa kami bergerak dalam bidang penerbitan buku. Tulisan huruf “H” dan “F” di dalam kertas buku yang terbuka melambangkan Ayah dan Ibu sebagai dua orang berkedudukan tertinggi dalam keluarga. Dan 7 bulatan yang merangkai nama HARFEEY dari warna biru paling tua hingga paling muda menggambarkan 7 bersaudara yang dimulai dari anak tertua hingga yang paling muda. Dan makna 7 bulatan itu yang melingkar keluar, lalu menyatu lagi ke dalam buku yang juga kami ibaratkan sebagai rumah yang di dalamnya terdapat orangtua, adalah bahwa kami—ketujuh bersaudara ini—gemar merantau ke luar daerah, namun pada akhirnya akan tetap bersatu juga di dalam rumah tercinta.Awalnya saya tidak memberitahukan akan niatan ini pada orangtua maupun sodara-sodara saya, karena saya berjanji baru akan memberitahukannya jika saya sudah memperoleh hasil yang jelas dari usaha ini, usaha yang menurut saya terbilang sesuai dengan passion yang selama ini saya coba gali dan cari. Yah, dunia penulisan dan perbukuan adalah dunia saya, dunia yang bisa saya jalankan bahkan dengan tetap nyaman tiduran di kasur sambil mengerjakan kegiatan lain.

Sebagai permulaan, saya membeli satu buah netbook yang harganya paling murah (sekitar 2 jutaan, karena saat itu saya tidak mementingkan kualitas, tapi netbook yang harganya sesuai dengan budget yang saya miliki). Akhirnya, dengan berteman netbook tersebut, saya bisa menjalankan pekerjaan yang sesuai passion saya ini, mulai dari mempromosikan paket penerbitan, memrosesterbitkan naskah yang masuk, menjual buku-bukunya, mengadakan event lomba, dan lain sebagainya, yang keseluruhannya hanya saya lakukan di balik layar virtual.

Perjalanan saya untuk merealisasikan Harfeey pun berlanjut, saya mulai membuat akunfacebook khusus untuk usaha Penerbit Harfeey. Dan bertanya pada Ibu-ibu senior di satu grup kepenulisan facebook tentang cara membuat penerbitan indie, terutama tentang pembuatan akta notaris agar usaha penerbitan saya legal di mata hukum. Semula saya nyaris drop saat teman penulis yang lebih dulu membuka usaha penerbitan indie menginfokan jika tarif untuk membuat akta notaris itu Rp3.500.000,-, teman lainnya menginfokan lebih “murah” lagi, yakni Rp1.500.000,-.

Saya nyaris terpuruk karena merasa tidak ada yang bisa saya mintai untuk pinjaman uang (karena seumur hidup saya tidak terbiasa/dibiasakan untuk meminjam uang). Untuk meminjam pada orangtua pun tidak mungkin karena saya berjanji pada diri sendiri, untuk tidak memberitahu tentang niatan saya dalam membuka usaha ini sebelum ada “hasil” yang jelas tampak nyata berwujud materi. Namun saya terus berusaha mencari jalan. Prinsip saya juga saya tidak akan mencari uang yang sesuai dengan tarif, tapi saya mencari tarif yang sesuai dengan uang yang bisa saya kumpulkan untuk membayarnya.
Puji syukur, Allah Maha Baik kembali memainkan peranannya dalam setiap titian langkah-langkah kecil saya, Dia mengutus seorang Ibu di salah satu grup itu (yang kalau tidak salah orang Makassar, maaf saya lupa T_T) untuk memberi info bahwa dia memiliki penerbitan dan saat mengajukan untuk pembuatan akta notaris, tarifnya hanya Rp500.000,-. Saya mulai kembali optimis, walaupun saya tau jika tahun pembuatan akta Ibu tersebut adalah tahun 2006.

Saya mulai mencari lokasi kantor notaris di Jogja yang sekiranya paling dekat dengan tempat domisili saya, melalui google map. Beberapa nomor telepon notaris saya kantongi dan mulai saya hubungi satu-satu. Dan… alhamdulillah, lagi-lagi Allah Yang Maha Baik memudahkan jalan saya dengan tidak mempertemukan saya dengan oknum notaris “nakal”, dari semua notaris yang saya tanya keseluruhannya menjawab bahwa tarif untuk membuat akta notaris adalah Rp500.000,-. Allahu Akbar.

Perjuangan tidak lantas selesai sampai di situ. Saya ingat hari itu tepat satu minggu sebelum bulan suci Ramadhan, dan mayoritas mahasiswa perantau di Jogja sudah pulang ke kampung halaman masing-masing guna menikmati libur panjang 3 bulan lamanya. Memang semenjak saya bisa dengan cukup jeli melihat peluang bisnis, sejak bulan Maret 2012 saya sudah tidak menggantungkan kebutuhan finansial pada orangtua saya lagi, namun uang yang saya peroleh dari berjualan buku-buku dan baju via online pun hanya cukup untuk bayar kost, kuliah, dan biaya hidup saya sehari-hari di perantauan.

Dan ketika itu kebetulan tabungan saya tidak sampai Rp500.000,- saya kembali galau. Dengan mempertebal wajah, akhirnya saya beranikan diri untuk meminjam uang pada kakak saya yang berdomisili di Tangerang. Semula saya merasa ragu dan tidak enak, apalagi yang menransfer uang pinjaman itu adalah kakak ipar saya—istri dari kakak saya—dikarenakan kakak saya sedang ditugaskan di daerah pulau Kalimantan. Ada rasa khawatir jika saya dianggap benalu dan hanya berbasa-basi untuk meminjam uang yang padahal niatnya minta.

Namun saya berusaha keras untuk melunasinya sesuai janji saya di awal saat meminjam uang pada kakak saya, SATU MINGGU lagi saya bayar. Demi Allah, saat mengikrarkan janji itu sebetulnya saya pun masih bingung akan mendapat uang dari mana, sementara untuk gencar mempromosikan jualan saya pun, setidaknya saya harus lebih sering ke warnet karena saat itu saya belum memiliki laptop, dan itu artinya saya harus mengeluarkan cukup banyak uang untuk berwarnet ria setiap harinya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar… tak lelah saya kabarkan jika lagi-lagi Allah mempermudah jalan saya menuju gerbang pendewasaan. Saya bisa dengan gencar promosi jualan online dengan cara memanfaatkan fasilitas penggunaan komputer dan internet gratis di perpustakaan kampus. Tak jarang saya pulang hingga ba’da isya meski lelah berdiri (karena tidak disediakan tempat duduk). Dan tak lelah juga saya bolak-balik dari kost saya di dekat UIN Jogja menuju pasar Bringharjo di kawasan Malioboro, menggunakan sepeda onthel yang sebelumnya alhamdulillah mampu saya beli dari hasil usaha jualan online saya (dengan sedikit tambahan dari orangtua, hehe). Puji Tuhan, TEPAT satu minggu setelah pinjaman dari kakak saya dapatkan, saya berhasil mengumpulkan uang lebih dari Rp500.000,- yang kemudian langsung saya gunakan untuk melunasi hutang saya. Meski saya yakin kakak saya akan sangat penuh dengan pemakluman jika pun saya belum mampu melunasi dalam waktu singkat, tapi bagi saya yang penting saya berusaha dulu dan terbukti Allah memberi jalan.

Selama satu minggu sebelum Ramadhan itu saya menunggu jadwal untuk bertemu dengan notaris, guna penandatanganan dari akta notaris yang semula data-data yang perlu dikirimkannya sudah saya kirim via email. Sekitar hari kelima bulan Ramadhan, saya berangkat ke kantor notaris sendirian dengan menggunakan sepeda onthel saya, untuk mengambil akta CV Penerbit Harfeey yang sudah jadi. Awalnya orang-orang di kantor itu cukup heran dan kurang menyangka kalo saya adalah orang yang selama ini mereka panggil “Ibu Lily”, karena… well, tampilan fisik dan usia saya yang memang mini dan masih anak bawang (xixixi). Namun mereka mengungkapkan kekagumannya karena anak muda (atau kecil?) seperti saya sudah mau dan berani membuka usaha sendiri. Yah, keberanian saya dalam berwirausaha semata karena dilatarbelakangi oleh kepayahan saya jika harus bekerja di bawah perintah telunjuk orang lain. Passionsaya bukan di jalur sana.

Dan lihat sekarang, meski—katakanlah—dulu saya kerap dianggap selayaknya produk gagal oleh para kerabat yang beranggapan bahwa sikap pemilih saya dalam menentukan pekerjaan yang cocok, adalah alibi dari alasan yang sebenarnya saya hanyalah malas dalam bekerja. Mereka tidak tau jika selama ini saya hanya mencoba mencari sesuatu yang benar-benar layak untuk menjadi lahan pekerjaan saya. Sesuatu yang bisa saya jalani paling tidak dengan minim atau bahkan sama sekali tanpa beban karena saya menyukainya, dan terpenting hasil yang saya peroleh bisa setimpal dengan apa yang telah saya lakukan. Mereka yang kemarin lalu memandang saya sebelah mata pun tidak, kini mulai menganggap keberadaan saya ada setelah saya membuktikan bahwa saya berhasil memperoleh penghasilan rata-rata Rp5.000.000,- perbulan (beberapa kali bahkan hingga mencapai 8 juta, tergantung dari keseriusan dan kerja keras saya).
1377979773241672913
Bersama sample buku terbitan Harfeey
Dengan hanya memanfaatkan kecanggihan teknologi, saya berhasil membuat diri untuk diakui keberadaannya. Saya bisa memenuhi segala kebutuhan hidup saya di perantauan, bukan hanya kebutuhan pokok saja, tapi kebutuhan untuk sekadar having fun pun bisa saya penuhi. Selain itu, saya pun bisa membantu orangtua dan sodara-sodara saya. Setiap bulannya saya—alhamdulillah—sejauh ini masih bisa mengirimkan sebagian besar penghasilan saya untuk ortu di kampung halaman, dan sebagian besar lainnya untuk adik saya yang masih kuliah di Jakarta. Di samping itu saya pun bahagia karena kini bisa membantu orang lain dan kakak-kakak saya yang sedang dalam kesulitan finansial, bukan hanya dari doa, tapi juga secara nyata dalam wujud materi. Bersama Harfeey yang telah menjejak pada usia lebih dari satu tahun, sudah ratusan buku dari nyaris ribuan penulis yang berhasil saya terbitkan. Saya akan terus berdoa dan berusaha untuk menciptakan lebih banyak lagi inovasi-inovasi cerdas dalam pengembangan perusahaan yang masih seumur jagung ini.

Setelah menyimak tulisan ini, mungkin sebagian pembaca akan mengasihani saya dan beranggapan bahwa saya tumbuh dan lahir dari kalangan keluarga yang berkekurangan dari segi materi. Maka saya tekankan di sini, alhamdulillah anggapan itu tidak benar. Saya terlahir dan besar dalam keluarga yang meski tidak tergolong kaya, tapi juga tidak bisa dikatakan miskin, cukup sebutlah sederhana. Namun saya dan keenam saudara saya yang lain, sadar betul bahwa kami dibesarkan oleh orangtua yang menanamkan pada tiap-tiap diri kami bahwa, “Kerja keras dan tanggungjawab adalah bagian dari kehormatan”.
***
Silakan baca juga:

Sabtu, 09 November 2013

Modus "Pintar" Penipuan Gaya Baru "Buyer" & "Seller" Online

http://coretanbundaumar.blogspot.com
Perdagangan online di era teknologi sekarang ini sudah menjadi primadona bagi para seller maupun buyer yang ingin memasarkan dan membeli produk tanpa harus membuang banyak waktu dan tenaga, serta hemat biaya. Tinggal lihat katalog di salah satu sosial media seller, lakukan pemesanan, transfer, barang dikirim, dan produk yang diinginkanpun sudah ada di tangan.

Tapi segala kemudahan itu justru membuat beberapa oknum seller maupun buyer memanfaatkannya untuk berbuat licik dan curang. Hal serupa yang pernah saya dan Penerbit Harfeey alami, yang kronologisnya bisa dilihat di sini. Tindakan yang membuat coreng-moreng perniagaan online. Karena ulah oknum-oknum tersebut, tidak bisa dihindari hingga akhirnya membuat hubungan antara seller dan buyer ada saling curiga. Hingga akhirnya pertanyaan dari buyer semacam, "Ini penipuan atau bukan, ya?" kerap kali terlontar saat ingin membeli produk via online shop. Saran saya, jika curiga atau tidak yakin pada OLS atau seller tersebut, buyer lebih efektif mencari tau sendiri bagaimana reputasi si seller. Karena percaya sama saya, kalo tetap keukeuh memakai cara "polos" itu, tidak akan membuahkan hasil yang pasti. Hellooow... jangan harap penipu akan mengaku dia nipu saat ditanya apakah dia penipu! :) Intinya, jawaban dari si jujur maupun si pendusta akan tetap sama; "SAYA BUKAN PENIPU."

Yang menurut saya cukup efektif di antaranya bisa dengan cara mengamati lapak onlinenya, melihat bagaimana interaksi seller dengan calon buyer apakah aktif atau hanya terkesan satu arah, melihat testimony dari para buyer yang sudah pernah membeli produk/jasanya, dll. Tapi ada yang harus diwaspadai juga dari testimony karena kadang bisa saja hasil karangan bebas dari si oknum seller. Saya pribadi, ketika awal mula membangun Penerbit Harfeey cukup menyadari betul kalau hal pertama yang harus saya promosikan adalah rasa trust/percaya calon buyer pada perusahaan saya. Oleh karena itu, saya memakai teknik testimony minim kecurigaan yang bisa dicek di sini. Atau yang lebih aman, belanjalah di tempat seller yang sudah dikenal secara individu, atau berdasarkan promosi dari teman yang puas dengan seller tersebut.

Oke, meluncur ke topik pembahasan utama. Di sini saya akan mencoba sharing pada teman-teman tentang berbagai modus "pintar" yang dilakukan oleh oknum seller dan buyer masa kini, yang data-datanya saya himpun dari berbagai sumber untuk kemudian saya tuliskan sesuai dengan gaya bahasa saya sendiri.
© Born to be "Antagonis" 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis