Beberapa orang, atau bahkan sebagian
besarnya, kerap mendulang ragu untuk kesuksesanku. Mana mungkin si “Putri
Tidur” pemalas ini bisa merangsek keluar dari zona nyamannya dalam balutan selimut
kumal, menuju bentangan aral melintang tingkah polah dunia luar dengan kondisi
aman. Namun aku—berkat dukungan penuh yang juga nyaris menjadi dukungan tunggal
dari ibuku—setidaknya cukup berhasil membuat engsel dagu mereka yang meragukan
untuk nyaris mencelos dari tempat asalnya—karena menganga kaget. Tidak
menyangka bahwa anak kecil yang kerap dipandang sebelah mata pun tidak ini,
nyatanya tidak terlalu buruk melakoni hidup di tanah rantau.
Aku menikmati setiap dentangan waktu
yang menjadi latar suara alur kehidupanku. Aku menikmati setiap tikamannya
sekalipun, meski terkadang aku serasa tercekik dibuatnya. Karena dari segala
kepahitan hidup, akan selalu ada bercawan manis yang bisa kureguk setelah ampas
terakhirnya berhasil kulumat nikmat.