Minggu, 02 Agustus 2015

Dear, Mbak2 Ber-attitude; Dewi Oktaviani & Isna Noor Fitria

Loh-loh... kemana nih si Mbak yang ber-attitude ini? Kok ngilang? Attitude-nya dipake dong, ah. Kok hobinya buang sampah sembarangan di rumah orang sih. Padahal saya mau nanya loh, apa korelasinya antara situ yang DULU suka ikut lomba di Harfeey dengan attitude saya yang menurut situ minus??? Duh-duh, susah banget ya buat gak ngaitin urusan pribadi sama bisnis? Kok Mbaknya ini sama kayak orang yang koment di status FB klarifikasi Harfeey soal ini, sih.

Baca, saya mau cerita tentang "kembaran" situ. Orang gak tau diri yang dulu nge-add saya, setelah sekian lama (saya ketipu sikap "santun" dia yg selalu manggil saya teteh padahal dia lebih tua) akhirnya saya yg selektif ngonfirmasi pertemanan pun nge-approve dia. Eeeh, ujungnya cuma buat nyinyirin status2 saya dengan koment sinis berbalut emoticon smile.

Tahun lalu dia cari gara2, koment sinis pake "hahaha" kayak idiot. Sama sih kayak Mbaknya, sok nasihatin tapi pake cara yang langsung men-judge. Sebagai tuan rumah saya ngerasa risih disampahin, waktu saya remove koment2nya ehhh, bukannya "tau diri" untuk DIAM karena saya ngerasa terganggu, tapi masih dengan style "hahaha" idiotnya dia protes. Saya pun remove dia dr friendlist. Dan baru pertama kali itu, saya nyesel setengah mati setelah 3 tahun selektif ngonfirm tp bisa kecolongan lolosin orang gak tau diri yg hobi cari gara2 begitu.

Gak cukup sampe di situ loh, Mbak yg menjunjung tinggi attitude. Si stalker "hahaha" idiot ini juga tadi malam koment tolol bin gak nyambung di status Harfeey yg klarifikasi soal ketololan statement Mbaknya yg ngait2in saya PRIBADI dgn bidang usaha. Keliatan bgt kalo dia cuma cari gara2 & seperti yg dicurigakan salah satu komentator lain, maksud koment dia yg masih dgn style sama itu cuma ingin menjatuhkan saya karena "dendam" masa lalu yg dia buat sendiri.

Saya respons koment gak nyambungnya 2 kali, sekadar mempertegas kalo saya remove dia krn ngerasa gak punya simbiosis mutualisme apa pun (kalo boleh jujur sebenernya krn dia sangat MENGGANGGU saya). Dia terus koment sinis bertameng emot smile, sampe akhirnya saya masukkan dia ke dalam list orang-orang yg lebih dari saya benci, yaitu orang yang saya anggap TIDAK ADA (dan kemudian situ tempati juga, Mbak Attitude). Saya mengabaikan koment2nya & tetap merespons koment orang lain. Kemudian, entah tolol atau justru sedikit pintar karena cukup "tau diri", dia meremove semua koment2nya termasuk mencabut "like" di salah satu koment saya. Sayang saya belum sempat mendokumentasikan ketololannya yang saya harap TERAKHIR dia lakukan untuk mengusik hidup saya yang bahkan merasa mengenal apalagi menyusahkannya secara pribadi pun gak (SAME AS YOU, MBAK ATTITUDE).

Saya bukan type orang kurang kerjaan seperti kalian yang sok merasa sudah mengantongi pintu surga dan berhak menjudge buruk orang lain. Situ dan kembaranmu yg sama2 BERATTITUDE itu yang DATANG ke rumah saya tanpa diundang lalu secara sembarangan BUANG SAMPAH dan pergi tanpa tanggung jawab. Saya gak tau kalo yg kalian sebut attitude baik itu yang seperti begitu; mengusik hidup orang lain.

Respons yang saya lakukan sekarang ini gak seberapa frontal, saya bisa kasih LEBIH ganjaran buat orang yang gak saya kenal, gak saya rugikan, tapi berani mengusik zona saya dengan tak tau diri.

#dewioktaviani & #isnanoorfitria pergi jauh2 dan jangan pernah lagi cari gara2 karena saya bisa memuntahkan yang LEBIH itu kapan pun. Jika saya sedang menjadi SAYA, maka sebenar-benarnya saya yang akan saya tunjukkan.

MY ATTITUDE BASED ON HOW YOU TREAT ME!

Selasa, 28 Juli 2015

Terlalu Sulit untuk Menjadi Saya

Setiap orang yang (pernah) mengenal saya akan punya penilaian yang mungkin bisa ditarik benang merahnya. Saya menyebalkan bagi mereka yang ketika mengganti nomor handphone merasa untuk tidak perlu mengikutsertakan nama saya dalam list kawan-yang-patut-diberitahu. Saya menyenangkan kata mereka yang bisa bertahan dalam pengabaian seorang teman. Tapi yang pasti, setiap baju yang coba dikenakan (paksa) mereka pada saya tidak selalu benar-benar benar 100%, walau tidak bisa saya tampik sebagian kecil atau besarnya ada yang iya.

Dulu sekali yang entah kapan, sempat terlintas pikir dalam otak di balik tempurung kepala saya yang kerap mendapat cap "keras", apakah saya punya kepribadian ganda? Satu sisi saya ingin berbuat baik, ingin menolong, ingin membantu, meringankan beban. Tapi bukan tidak saya sadari, sering kali cara yang saya pakai justru malah yang menimbulkan kesan kalau saya manusia paling apriori. Bukan hal yang mengherankan jika kemudian orang-orang yang pernah (sedikit) terbantukan dengan adanya andil saya dalam hidupnya, justru meletakan saya pada kotak berlabel buruk dalam memori yang dimiliki. Saya adalah manusia dengan nilai terbaik dalam hal keburukan penyampaian maksud baik.

Kepribadian ganda saya yang paling kentara bisa dilihat dari air muka. Banyak yang bersaksi bahwa saya memiliki senyum yang bisa terkategorikan manis, penunjang terbesar dalam perbaikan wajah yang justru sangat jarang saya gunakan. Namun sekeras apa pun saya mencoba mengukir senyum sempurna, tetap tidak bisa menutupi kontras dari sorot mata yang memancarkan aura antagonis.

Kadang-kadang, bukan sekali dua kali, saya merasa lelah menjadi saya. Si ambisius yang selalu merasa berhutang pada diri sendiri. Orang aneh (dan sebagian besar dari mereka menyebut saya unik) yang dalam senyap selalu kalut memikirkan orang-orang yang berpikir saya tidak pernah memikirkan mereka. Bagaimana tidak, ketika mereka bertanya bagaimana kabar saya, tidak pernah terlontar pertanyaan balik yang serupa meski rasa ingin tau itu lebih besar dari si penanya langsung.

Bagi sebagian besar orang, bukan hal yang sulit untuk tampil bahkan dengan sedikit kebisaan sekalipun. Tapi tidak dengan saya. Saya hanya ingin maju ke muka jika hasrat saya menghendakinya. Saya bisa dengan mudah menutup indera dari cibiran, delikan sinis, atau tudingan penghakiman. Saya tidak begitu mau peduli pada pendapat mereka yang bahkan disulitkan hidupnya oleh saya pun tidak.

Saya memang "berbeda", dan masih mencoba berdamai dengan semua perbedaan yang saya miliki. Tidaklah mudah menjadi berbeda di antara orang-orang yang sama. Jika saya menjadi orang lain, mungkin saya pun akan membenci saya.

Yogyakarta, dini hari di penghujung Juli

Jumat, 08 Mei 2015

Ajeg Meubel Yogyakarta, NOT RECOMENDED!

Ajeg Meubel Yogyakarta itu not recomended. Pernah beli rak TV bertingkat, pas liat2 yang di display-nya ada cacat di salah satu pintu yang gak bisa ditutup, selain juga sudah ada gompel/boncel sana-sini. Waktu tanya ke pegawai katanya nanti yang dikirim bukan yang itu, tapi stok baru dengan model sejenis.
Setelah bayar (dan gak bisa ditawar 5 rebu perak pun), dijanjiin barang dikirim besok. Pas ditanya jam berapa malah gak bisa mastiin, katanya nanti kalo mau ke sana akan di-sms. Padahal hari itu saya ada perlu keluar, tapi nunggu2 kiriman itu takutnya saya gak ada di rumah pas dateng. Eh, sial, saya tunggu seharian gak ada tanda2 mau muncul juga. Setelah ashar saya sms tokonya, katanya kurir lagi ke Winosari dulu. Hadeuhhh, padahal rumah saya jauh lebih deket dari Jalan Solo.
Finally, mobil yang ngangkut rak dateng setelah sebelumnya kurir telepon2 nanya ancer2. 2 orang mas2 yang dateng. Tanpa banyak basa-basi, saya langsung bilang makasih setelah rak diangkut ke dalem.
Setelah mereka pergi, saya cek kondisi rak. Cukup kaget dan kesel waktu liat salah satu pintunya susah ditutup lagi setelah saya buka sebelumnya. Pas saya cek, ternyata ada bekas iris/gergaji kecil di bingkai pintu bagian atas. Cacat! Ternyata ini rak kemaren yang saya liat di display.
Saya langsung komplain ke nomor kurir, dia berkelit dan lepas tangan, bilang kalo tugas dia cuma antar barang. Saya sms ke tokonya, dibales maniiis banget sampe2 di akhirnya bilang terima kasih sudah mengkritik dan pake emoticon smile. Waktu komplain itu saya nahan2 buat gak nunjukin jiwa devil saya. Mereka janjikan akan kirim rak pengganti yang masih baru besok.
Besoknya saya tunggu, gak ada kabar sms ataupun kedatangannya. Lusa saya tunggu lagi, sikon masih sama. 5 hari saya masih husnudzhon, mungkin raknya ngedadak bikin dah butuh waktu.
Dan hingga detik ini, setelah setengah tahun berlalu, gak ada pertanggungjawaban apa pun yang saya dapat. Ajeg meubel fix gak amanah, penipu, dan gak bertanggungjawab! Kalo memang dari awal gak ada rak lain, tinggal jujur. Gak usah pura2 cuma biar laku, ujungnya malah curang dengan ngiris dan bikin cacat produk. Amit2, padahal pas beli itu saya nawar 5 ribu aja gak bisa, sementara di tempat meubel lain masih bisa nawar bahkan kisaran 50.000 - 100.000.

Selasa, 24 Maret 2015

UTS Sebagai Anak Semester 8

How amazing me. Di saat mayoritas temen seangkatan lagi pada lenggang kangkung menikmati keluangan waktu, atau justru punya kesibukan baru garap skripsi, gue masiiih aja kerajinan berkutat sama bangku kuliah. Panjang dan difficult banget musabab kenapa gue masih juga ngambil kuliah di semester akhir.

Hoaaah... cuma mau ngeluh, jadi MABA* itu gak enak.

*Mahasiswa Ambang Batas Akhir

Poor me 😖😢

© Born to be "Antagonis" 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis