Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Februari 2016

PULANG (Cerpen)

Salah satu karya tulis terbaik saya yang ikut dibukukan dalam antologi cerpen event terakhir Penerbit Harfeey, "Kado Terindah" bersama puluhan penulis lainnya. Selamat menikmati akhir pekan.

***

PULANG
By Boneka Lilin

Abah berdiri tak sampai satu jengkal di kananku. Saking dekatnya, bahu kami hingga bersinggungan. Setelah delapan tahun, ini menjadi kali pertama antara aku dan Abah tanpa jarak. Di hadapan kami terhampar danau yang ujungnya tak terjangkau penglihatanku. Kabut tipis di pagi hari memberi kontribusi besar untuk menyamarkannya.

“Manusia hidup dalam keadaan tiada,” Abah memulai petuahnya, petuah yang entah bagaimana aku merasa dikhususkan bagiku. “Namun manusia wajib mati dalam keadaan ada.” Kepalanya yang terlilit sorban putih dipalingkannya menghadapku. Dari sisi ini, aku baru menyadari kalau ternyata Abah juga mengenakan jubah putih, baju yang kubelikan untuk dipakainya pada Lebaran tahun lalu.

Aku masih bergeming, bahkan ketika Abah yang tersenyum mengelus kepalaku dari pangkal ke pangkal. “Abah menyayangi Ria. Paling sayang.” Ucapan terakhirnya sebelum kemudian berjalan lurus, menembus air danau yang tiba-tiba berubah menjadi jalan bertanah liat.

Sampai di sini, kesadaranku seperti baru terkumpul. Aku menangis, memanggil Abah dengan suara yang tak bergaung sama sekali. Namun Abah tak mengacuhkanku, terus melangkah hingga sosoknya tertelan kabut putih. Entah kenapa aku merasa sangat sakit hati.

“Astaghfirullah!” kudapati keterjagaan setelah kaki kananku menghentak udara.
Hanya mimpi. Dua kata itu yang pertama kali kusugesti untuk diterima otak. Ya, meski hanya mimpi, namun ternyata rasa sakitnya masih membekas di hati.

Jam analog pada android yang selalu kuletakkan di sampingku menampilkan angka 16.21. Sebuah momen tidur siang yang kebablasan, dan akhirnya berbuah mimpi menyebalkan. Aku merutuk sepanjang perjalanan menuju kamar mandi untuk berwudhu.
***
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” suara Abah yang menjawab. Hal yang cukup jarang, mengingat Abah adalah seorang yang terbilang zuhud. Namun dari yang kudengar, Mimi sengaja mengajari Abah bagaimana caranya menjawab telepon yang masuk ke ponsel, agar Abah tidak perlu merepotkan tetangga hanya sekadar untuk menekan tombol berwarna hijau jika kebetulan Mimi tak ada.
“Abah...”
Belum selesai aku bicara, terdengar teriakan Abah memanggil Mimi. “Tunggu sebentar, Mimi masih di kamar mandi.” Ucapnya sebelum kemudian kembali menjauhkan mulut dari horn dan berteriak memanggil Mimi untuk segera menjawab teleponku.

Aku tersenyum. Abah selalu begitu. Selalu merasa setiap anak-anaknya menelepon, itu berarti berkepentingan dengan Mimi. Selalu merasa dirinya bukan objek yang kerap dibutuhkan, bahkan sekalipun untuk sekadar mengobrol.

“Assalamu’alaikum,” sapaan ceria khas Mimi setelah sebelumnya terdengar bertanya pada Abah tentang siapa yang menelepon.
“Wa’alaikumsalam. Sehat, Mi?” pertanyaan langganan yang kerap kutanyakan jika menghubungi rumah. Empat tahun sudah aku merantau di Kota Gudeg, pulang hanya setahun sekali meski berulang Mimi memintaku untuk mudik. Namun sesuatu yang disebabkan oleh delapan tahun lalu, selalu memupus hasratku untuk pulang meski seberapa pun inginnya aku. Cara satu-satunya bagiku untuk tetap mengetahui kondisi Abah dan Mimi yang kini hanya tinggal berdua di rumah adalah dengan menelepon sedikitnya tiga kali dalam seminggu.
“Alhamdulillah, sehat. Ada apa, Ri?”
Aku berdeham sebelum menjawab, “Gak apa-apa,” masih bergelayut sebongkah ragu untuk mengutarakan maksud utamaku.
“Oh. Hm, Ria sehat? Udah makan?”
“Alhamdulillah. Udah, Mi.”

Untuk beberapa saat aku hanya mendengarkan celotehan Mimi jika di sana pun mereka baru selesai makan dengan labu siam dan pepes tahu. Kondisi fisik Mimi yang disarangi beberapa penyakit memang mengharuskannya untuk memilah makanan. Mau tak mau, Abah yang sehat secara jasmani pun harus mengikuti menu makan Mimi. Bukan sekali dua kali aku mengirimkan obat, baik ramuan herbal maupun obat modern, demi kesembuhan Mimi. Namun sejauh ini, hidupnya masih harus bergantung pada obat-obatan.

“Ehm. Abah... Abah sehat, Mi?” akhirnya, terucap juga tujuan utamaku menghubungi rumah. Satu pertanyaan yang nyaris saja kutelan untuk kembali ke dalam relung-relung perut saat mendengar suara Abah yang menjawab panggilan telepon.

Ada jeda sekian detik sampai suara Mimi yang lebih bersemangat dari sebelumnya, merespons pertanyaanku, “Alhamdulillah!” Entah, aku mendengarnya seperti sebuah kelegaan, bukan sebagai jawaban atas pertanyaan. “Alhamdulillah, Abah sehat. Selalu sehat. Alhamdulillah, berkat doa Ria.” Volume suaranya pun naik beberapa oktaf.

Bukannya aku tidak tau, Mimi meninggikan suaranya agar Abah bisa mendengar langsung jika aku menanyakan kabarnya. Agar Abah tidak selalu merasa Mimi berbohong saat menyampaikan salam sapa dariku. Agar Abah tau bahwa aku, anak ketiganya yang tak tau diri, yang selalu membuat benteng penghalang di antara kami kian hari kian tinggi dan menebal, ternyata masih memiliki kepedulian untuk bertanya kabarnya.

Delapan tahun, bukan waktu yang main-main lamanya untuk menciptakan jarak jauh dengan seseorang yang telah bertaruh apa pun untuk kelayakan hidupku. Delapan tahun usahaku untuk kian merentangkan jarak dengan Abah. Delapan tahun penuh kaku yang tercipta hanya karena sebuah kesalahpahaman.

Dari cerita Mimi, Abah sudah tahu kebenaran dari peristiwa delapan tahun lalu itu berkat kisahnya yang kutuliskan di dalam salah satu bukuku, buku yang sengaja kuterbitkan untuk menyuarakan pemberontakanku pada Abah yang dulu bahkan tak memberiku satu kali pun kesempatan untuk membela diri. Namun entah, rasanya masih terbilang sulit untuk berlaku biasa setelah melalui tahun-tahun yang tak biasa.
***
“Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikumsalam. Teteh?” aku menjauhkan android dari telingaku, melihat layar untuk memastikan jika panggilan ini datangnya dari nomor Mimi. Tapi kenapa justru suara Teteh yang notabene berdomisili di Bandung yang terdengar.
“Ria, pulang, ya—”

Terdengar suara kasak-kusuk sebelum Teteh berhasil menuntaskan bicaranya, rupanya Mimi mengambil alih ponsel.
“Ria... Abah...”

Abah?! Detik itu juga aku menyambar tas selempangku yang hanya muat diisi oleh dompet dan ponsel, mengunci rumah kontrakan yang baru setahun kutempati setelah usaha yang kulakoni di sela kuliah kian membuahkan hasil, lantas memacu sepeda motor yang kubeli satu bulan sebelum mengontrak rumah ini.
Tujuanku hanya satu; stasiun. Aku ingin pulang. Aku harus pulang. Secepatnya.
***
Tanah ini masih merah, menguarkan bau basah yang berpadu dengan wewangian bunga yang masih utuh menyelimuti permukaan bidangnya. Sebongkah batu bata menancap tepat di satu sisi, sekadar penanda jika ada jasad yang terbujur di baliknya. Tanah ini masih merah, meski sembilan jam sudah terlewati sejak timbunan terakhirnya menutupi raga seseorang yang kini amat sangat ingin kucium kakinya.

“Abah...” kuusap nisan sederhana tanpa nama itu, sesuai wasiat si pemilik yang tak ingin rumah terakhirnya di dunia terhias macam-macam.
Abah dimakamkan ba’da ashar tadi, sekitar empat jam setelah Ijrail menjemputnya. Lima jam sebelum aku tiba di rumah. Kuikhlaskan tak melihat jasad Abah yang bahkan kali terakhir menemuinya adalah pada Lebaran tahun lalu, agar Abah tak berlama-lama tersiksa di dunia dan bisa disegerakan untuk menunaikan kewajiban pertanggungjawabannya dengan Pencipta.

“Khusnul khotimah, insyaallah.” Berkali-kali Aa yang kini mendampingiku mengunjungi makam Abah mengingatkan dengan air muka sedih yang dipaksa berbinar ikhlas demi memuluskan jalan Abah menghadap Allah. Namun tak pelak, air matanya pun terus berlinang. Sama banyak dengan banjir yang sejak di kereta menjebol pertahanan mataku.

Beri-beri jantung, satu penyakit yang baru kutahu ada justru setelah menjadi jembatan Abah memutus kontrak hidupnya dengan dunia yang selama 63 tahun dilakoninya nyaris tanpa cela. Jika bukan dokter yang menjabarkan tanda-tandanya, tak akan ada satu pun yang percaya jika Abah yang di usia kepala enamnya itu masih mampu mengangkut sekarung padi, tak pernah bisa terlihat diam menganggur, dan luar biasa giat beribadah bisa meninggal karena penyakit yang aku yakin dirinya sendiri pun tak menyadari.

Jika Abah terjangkit beri-beri kering atau basah, paling tidak akan ada “pertanda” untuk mengantisipasi penyembuhannya. Namun, qadarullah, beri-beri jantung yang terpilih untuk menjemput Abah tanpa pesan. Selain pesan yang dituahkannya padaku dalam mimpi kemarin sore.

Dikisahkan Kakak Ipar—suami dari Teteh—karena baik Aa, Teteh, apalagi Mimi masih nampak terpukul, Abah meninggal beberapa detik setelah menuntaskan kewajibannya memimpin kaum lelaki menunaikan sholat Jumat. Menurut penuturan dari saksi mata yang duduk tepat pada shaf di belakang imam, tangan Abah yang semula tengah menengadah berdoa, tiba-tiba menekan ulu hatinya, hingga kemudian tubuhnya ambruk ke kanan setelah mengucapkan dengan nyaris berteriak nama “Allah”. Sesuatu yang membuat kami dan semuanya yakin jika Abah pergi dengan kebaikan yang menyertainya.

“Abah... ampun, Bah... Ria minta maaf, gak pernah kirim obat buat Abah. Ria gak tau, gak pernah mau tau...” aku tak memiliki kesanggupan untuk menuntaskan kalimatku, isakan menyakitkan yang menekan-nekan dadaku hingga terasa menghimpit menyulitkanku untuk memuntahkan semua isi hati.

Dengan sigap, Aa yang masih berusaha keras untuk meredam isakannya sendiri, merangkul pundakku dan membimbing untuk berdiri.
“Ayo pulang, udah hampir jam 11 malam.”
“Abah... Ria pulang, Bah. Pulang sebagai Juaria binti Sulaiman, anak Abah yang delapan tahun ‘menghilang’. Ria pulang, Bah. Pulang untuk mengantar Abah berpulang.
Kutuntaskan risalah meski hanya lewat kata hati, aku yakin Abah bisa mendengarnya di sana, di surga, insyaallah.

Meski tak sempat berjumpa raganya, aku bahagia karena Abah “memilihku” untuk dititipinya pesan terakhir. Pesan yang disampaikannya dengan berjubah putih pemberianku, jubah sama yang mengantarkannya menghadap Allah Azza Wa Jalla di masjid siang tadi. Satu hal yang membuatku menjadi tahu dan kian yakin, Abah tetap menyayangiku, paling menyayangiku.

Satu wasiat Abah yang akan menjadi pedoman hidupku kini. Aku terlahir dengan tiada keistimewaan apa pun yang kumiliki, namun aku mati harus dengan membawa banyak manfaat untuk bekal menghadap Illahi. Aku ingin pulang seperti Abah, berpulang dalam kebaikan.

#Fiksi

Sabtu, 31 Mei 2014

Anak Kost VS Tanggal Tua

Meringis miris aku membaca berbagai curahan hati kawan-kawanku yang mengirim naskah pengalamannya dalam bertarung dengan si monster akhir bulan—tanggal tua. Betapa kemelaratan juga bisa terdefinisikan dalam berbagai versi. Hal-hal yang menurutku lumrah dan biasa saja, ternyata bisa menimbulkan keluh-kesah bagi sebagian di antaranya. Dan bukan tidak mungkin, pengalaman seru-haru yang kutulis ini juga tak mencapai seujung kuku sekalipun bagi derita sebagian yang lainnya.

Aku memang sudah tidak pernah lagi merasakan masa-masa perih itu. Kalaupun kini aku pernah kelaparan, itu bukan karena aku tak punya rupiah untuk ditukar dengan panganan, lebih karena sifat malasku yang tak terkalahkan meski cacing di perut sudah mengadakan demo besar-besaran. Namun bagaimanapun waktu berliku, berlalu, masa itu akan tetap melekat erat dalam kotak di dalam otak yang sudah kukunci dengan baik agar terekam jelas selamanya. Saat di mana realita menginjak telak di ulu hatiku. Aku tersadar.

Aku sadar bahwa pada Februari 2012 lalu itu, pantulanku dalam cermin tak lagi merefleksikan sosok gadis kecil berkuncir kuda dengan poni menyamping, juga bukan remaja berjilbab dengan seragam putih abu-abu. Aku adalah gadis yang sedang berproses menjadi perempuan, aku adalah wanita. Terlihat aneh memang, tapi hal tersebut memang sengaja kuanalogikan, bahwa “wanita” adalah masa transisi dari seorang “gadis” yang ingin menjadi “perempuan”. Bahwa ketika aku telah menahbiskan diri untuk menjadi seorang wanita, maka sebaik-baik manusia yang bisa dijadikan sandaran untuk menjadi orang yang bisa diandalkan adalah diriku sendiri.

Pada Februari itu, pikiranku mulai menguak lebar untuk menebus semua dosa masa lalu pada diriku sendiri; aku benci telah membuat diriku pernah ada dalam posisi kelaparan! Namun kembali kupertegas, kebencian itu tak lantas membuatku ingin melesakkannya jauh ke dasar memori. Justru aku memilih untuk tetap membiarkannya ada di permukaan pikirku, menohoknya dengan balasan-balasan setimpal bahwa kini aku berhasil mengalahkannya; SANG MONSTER AKHIR BULAN!

Pernah membayangkan ada seorang anak yang notabene bukan berasal dari keluarga ekonomi bawah (alhamdulillah, meski belum kaya tapi keluargaku cukup terbilang masih beruntung dari segi finansial. Masih bisa makan sepuas hati—di rumah—meski hanya dengan lauk sekelas tempe dan teri), harus bertahan hidup di perantauan hanya dengan bekal sesapan kecap selama tiga hari berturut-turut? (ya, hanya tiga hari. Karena pada hari ke empat, aku mendapati jatuhan pepaya di pekarangan kost yang akhirnya kumakan meski sebagiannya sudah koyak dan menjadi konsumsi serangga). Bukan lagi terbayangkan buatku, karena justru aku yang mengalaminya sendiri.

Masih terekam jelas bagaimana ketika si Monster kep*r*t itu memecundangiku, membuat air di mataku menitik satu-satu saat dengan kepayahan berusaha menyugesti alam bawah sadar, bahwa lelehan kecap yang susah payah kukorek dari sisa botolnya bisa dijadikan andalan untuk meredam emosi para cacing, untuk tidak berbalik mengonsumsi lambungku hanya karena tak kusediakan jatah makan.

Bukan salah Ibu-Bapak jika aku harus bertarung dengan tanggal tua, yang akhirnya—pernah—berhasil mengalahkan dan menempatkanku pada posisi miris seperti yang kukisahkan, pernah membuatku minum dari air keran selama berhari-hari karena tak memiliki satu sen pun untuk kubelikan air mineral. Semua salahku sendiri yang terlalu boros, menggampangkan uang hanya karena aku merasa bahwa kini aku menjadi satu-satunya tanggungan orangtua, melupakan adikku yang meski sudah bekerja dan kala itu menunda kuliahnya namun juga masih jauh dari kata mapan, meminggirkan biaya yang harus ditanggung orangtuaku untuk Uwak (kakak dari bapakku) yang tak beranak-suami dan kala itu diberi cobaan dengan kanker lidah (yang akhirnya menjadi jembatan beliau menuju surga—aamiin), dan melupakan lambung-lambung dalam balutan tubuh ringkih kedua orangtuaku yang berusia di atas 50 tahun, namun masih harus bekerja keras memenuhi segala macam tuntutan ketidaktahuan diri dari anak yang sudah sepantasnya mulai berproses menjadi “perempuan”, namun terlalu lena di posisi “gadis”. Aku lupa bahwa dunia tak selamanya bisa memaklumi kemasabodoan dan kemalasan yang kumiliki.

Dan kini kukatakan, bahwa segala kekalahan yang pernah kudulang saat bertarung dengan si Monster akhir bulan yang terakhir kali kurasakan lebih dari dua tahun lalu itu, adalah murni salahku.

Aku memiliki satu kebiasaan buruk, mengikuti hasrat hati saat kondisinya sedang porak-poranda. Alih-alih mengadu pada Tuhan untuk mendapat ketentraman, aku justru menggunakan isi dalam dompetku yang pada masa itu volumenya tak pernah tebal, untuk kujadikan senjata penyenang sesaat. Aku ingat, sebelum akhirnya tersadarkan diri setelah terkalahkan itu, aku baru saja mencampakkan seseorang yang kemudian kusebut “Sapi” karena dia mencampakkanku. Kekesalan yang membuatku memboros besar-besaran, menikmati me time di mall dan membeli apa pun yang kuhasrati—walau hanya sesaat.

Mungkin orang akan meneriaki bodoh karena aku tak memanfaatkan relasi persaudaraan atau pertemanan untuk meminjam uang. Haha, hei... aku adalah orang yang paling bingung bagaimana caranya jika harus diminta meminjam uang. Semenjak aku di pesantren dulu, tak sekalipun aku pernah mengandalkan uang selain kiriman dari orangtuaku. Sementara di lain sisi, orangtuaku bukan typikal pemanja yang royal pemakluman. Jika aku tak bisa me-manage keuanganku dengan baik, maka aku harus menanggung segala resikonya hingga tiba masa jatah kiriman di periode selanjutnya. Dan untuk insiden sesapan kecap itu, aku memang sengaja tidak menceritakannya, bahkan hingga detik diketiknya tulisan ini, karena aku tak punya alibi apa pun untuk kujadikan alasan atas lenyapnya jatah uang jajanku dalam waktu yang singkat, padat, dan tak jelas itu.

Setelah bertahan dengan sesapan kecap dan tegukan air keran, bertepatan dengan liburan semester kuliah. Ibuku mengirimkan uang untuk bekalku mudik ke kampung halaman. Dari sanalah mata, hati, dan pikiranku terbuka; inilah saatnya aku harus mulai berproses menjadi seorang perempuan. Menjadikan tumit kakiku sendiri sebagai pijakan kuat untuk melangkah. Aku melihat bagaimana kepayahannya dua sosok renta itu mengurusi Uwak dengan biaya waktu, tenaga, dan uang yang tak sedikit. Aku mulai dirasuki malu jika harus terus menjadi benalu, padahal tepat di Februari dua tahun lalu itu usiaku menjejak pada bilangan kepala dua. Lebih merasa pecundang lagi saat ibuku yang terpusing-pusing mencari uang untuk bekalku kembali ke perantauan, akhirnya membatalkan pinjaman dari Bibi setelah adikku—orang yang harusnya kuberikan contoh baik—mengirim sebagian uang gajinya untuk modal hidup si pecundang semacamku.

Namun tak akan ada aku yang sekarang, yang bisa menjadi andalan dari segi finansial bagi orangtua dan saudara, yang bisa bukan hanya membiayai kebutuhan hidup dan kuliahku selama di rantau, namun untuk adikku juga. Tak ada aku yang sekarang, yang kurasa telah cukup berhasil mengalahkan kepongahan si Tanggal Tua, jika tak pernah ada Tanggal Tua yang mengalahkan dan berhasil menjatuhkanku hingga titik nadir.

Kala itu, sesampainya di Jogja, aku langsung berusaha keras untuk bangkit bekerja cerdas. Menyadari keterbatasan egoku yang merasa cukup sulit untuk menerima perintah dari telunjuk selain milikku, maka opsi menjadi pegawai part time pun tak menarik minatku sama sekali. Satu-satunya harapan; aku harus berwirausaha.

Allah Mahabaik melancarkan niatanku. Sepulang kuliah saat memutuskan untuk mengambil jalan memutar menuju kostan, aku melihat peluang bisnis pertamaku. Bisnis yang langsung sukses dan berhasil menuai keuntungan bersih (di luar modal tenaga) sebesar 700 ribu perminggu. Nominal yang terbilang sangat besar bagiku kala itu. Sebuah penghasilan yang berhasil membuat ibuku mengucurkan puluhan kata syukur di balik horn ponsel saat kukisahkan kisahku, mengubah keluhan ibu dan lenguhan napas lelah bapakku menjadi kata-kata semangat agar aku bisa terus berhasil dengan jalanku.

Well, saat itu aku bisnis menjual buku-buku di bazar lewat facebook. Bazar yang diadakan selama 2 pekan di gedung yang bersebelahan dengan kampusku itu menjadi awal keberanianku dalam berbisnis dengan modal NOL rupiah, yang kuandalkan benar-benar hanya otak dan ototku dalam bertarung mengalahkan si Tanggal Tua. Kucatat semua buku yang ada di stand termurah, untuk kemudian kupasarkan di facebook pribadiku dengan sistem paketan dan gratis ongkos kirim. Margin keuntungan yang kuperoleh lumayan besar, karena aku sangat meminimalisir modal uang. Kubeli buku di bazar itu hanya jika sudah ada customer-ku yang benar-benar fix mau membeli dengan bukti menransfer dananya. Kubawa berkantung-kantung besar buku-buku itu dari tempat bazar ke kamar kostku yang jaraknya hampir satu kilo hanya dengan berjalan kaki.

Dari bisnis pertama itu, ide bisnis lain hilir mudik saling menghampiri. Mulai dari berjualan batik bola yang perolehan keuntungannya sama memukau juga, meski aku pernah dibuat menangis sendirian di bangku pinggir jalan Malioboro saat “ditipu” oleh suplyer pertamaku, meski aku pernah dibuatnya beberapa kali berjalan kaki dari kostku di daerah UIN ke Maliboro atau sebaliknya, yang jaraknya puluhan kilo meter hanya demi menghemat ongkos busway yang jika kulihat sekarang sangat tak seberapa.

Tapi harus kuakui, jika saat itu segala penghasilanku hanya bisa memenuhi kebutuhan pribadiku saja, belum bisa dengan leluasa kucicipkan juga untuk orangtua dan sodara. Dan ide bisnis baru pun melintasi pikiranku pada 27 Mei dua tahun lalu; aku ingin membuka usaha jasa penerbitan buku indie. Ide bisnis yang langsung kurintis perealisasiannya di keesokan harinya dengan nama Harfeey yang kupilih sebagai brand, sebuah nama yang merupakan singkatan dari nama ibu-bapakku.

Bersama Harfeey, aku berhasil membeli mimpi-mimpiku, aku bisa mewujudkan mimpi-mimpi orangtua dan sodaraku, bahkan aku mampu menyambut tanggal tua dengan tawa yang mengejeknya; aku bukan lagi sasaran tepat untuk kau siksa!


Takkan cukup hanya dengan beberapa halaman untuk mengisahkan kejatuhanku dalam usaha untuk memenangkan pertarungan, hingga akhirnya bisa berdiri meski belum terlalu kokoh. Namun satu hal yang ingin kuberitahu, bahwa aku bisa berada di sini bukan dengan cara yang instan. Ada banyak bekas luka yang menjadi bukti proses pendewasaan yang berhasil kuraih dengan gadaian cucuran peluh dan air mata.

Rabu, 02 April 2014

Cerpen; Kopi Air Mata

Kembali kureguk campuran kafein dengan air dari galon yang sama sekali tidak panas. Sesekali kuusap peluh yang besarnya tak sehiperbolis biji-biji jagung. Kipas angin di sudut kamar kost yang baru kubeli empat hari lalu telah mempekerjakan baling-balingnya dengan baik, tapi entah kenapa kadar air tubuhku lebih mendominasi untuk membuangnya lewat buliran keringat. Padahal udara malam tak terbilang panas.

Ini malam ke sekian dari 3 minggu yang penuh peluh dan keluh. Minggu-minggu yang memaksaku untuk memotong jam tidur lebih banyak lagi, lebih sibuk dari biasanya. Lebih lelah dari biasanya. Lebih emosional dari biasanya. Tuhan, beri aku kadar kesabaran lebih.

Mata dan jari-jariku masih sibuk berkeliaran nyalang di depan netbook. Berpindah dari microsoft words untuk menulis, mengedit, dan me-layout naskah ulang karena pekerjaanku sebelumnya hilang tertelan si error. Lalu bergulir ke paint untuk men-design cover. Begitu seterusnya, hingga mataku berair dan perut mual luar biasa saking bosannya.

Ini minggu terberat—seperti umumnya minggu-minggu dahulu di mana deadline jadwal cetak buku penerbit indie milikku sudah mencekik. Di antara keliaran pikir menghadapi segumpal pekerjaan, kelebatan bayang yang membuatku harus berlelah seperti ini turut berlompatan.

Kusesap kopiku lagi dan lagi, kopi pahit tanpa gula yang kucampur dengan air tawar. Sengaja aku meramunya begitu, aku tak ingin ada terselip kenikmatan di area deritaku. Itu tidak konsisten dengan keadaan. Keadaan di mana duka tengah erat mendekapku. Keadaan di mana situasi mengharuskanku menelan pahit ini mentah-mentah. Aku benar-benar merasa sendirian.

Kapan bukunya selesai cetak? Kapan buku pesanan saya dikirim? Mana revisian cover buku saya? Pokoknya buku saya harus sudah nyampe rumah sebelum tanggal 20! @#$%^&*?<!....

Kepalaku berdengung-dengung, konsentrasiku yang sudah terpecah ke berbagai tugas di balik netbook kian buyar, menebar, melebar. Tugas kuliah? Aku tak pernah memikirkannya. Kuteguk kopiku dengan lebih beringas, hingga gelas tupperware yang kupakai sebagai tempatnya pun kucekik kuat dengan kedua tangan.

Kini tubuhku menjauh dari layar netbook, bergeser pada satu ruang di sudut kamar gelap. Kamar yang hampir satu tahun terakhir ini tak pernah kupasangi lampu. Kusandarkan dagu di kedua lututku yang tertekuk, dengan tangan yang masih setia mencekik gelas yang kini berada tepat di bawah wajahku. Titik-titik air berjatuhan ke dalam gelas, bercampur dengan pekat kopiku. Bahuku mulai berguncang. Aku menangis.

Tuhan, aku lelah....

Harfeey adalah nama yang kupilih untuk usaha penerbitan buku indie milikku. Bidang usaha yang hampir dua tahun ini kugeluti sejak masih kuliah di semester 3. Nama yang sengaja kuambil dari singkatan nama orangtuaku, dengan harapan bisa sukses dan mendulang berkah melimpah.

Sepertinya harapan dari pemberian nama itu memang terkabul. Seiring perkembangannya, usahaku melesat pesat. Menimbulkan iri di sudut negatif maupun positif bagi yang lain. Beberapa media online mulai mengulas profilku di bidang kewirausahaan muda. Beberapa tawaran untuk menjadi pembicara seminar di komunitas, sekolah, bahkan perguruan tinggi pun menghampiri, tapi selalu kutolak tanpa tebang pilih. Aku belum berminat untuk menjadi terkenal. Seperti dagelan, tapi ini serius.

Tidak hanya itu, tawaran untuk membuka imprint penerbitan pun berseliweran, tawaran distribusi buku secara nasional turut berjejalan, hingga tawaran jasa editor dan design cover tak henti pula berdatangan. Dari kesemuanya tak ada yang kugubris. Aku masih belum bisa untuk merekrut orang lain. Selama ini aku meng-handle semua proses penerbitan seorang sendiri. Semuanya. Hanya kadang saja design cover dibantu oleh adikku, tapi tidak untuk masa cetak bulan ini. Aku benar-benar dibuat kesal dengan semuanya.

            Perhitunganku salah. Aku lupa jika tahun ini Februari hanya menjejak hingga angka 28. Aku teledor. Dan terparah adalah aku berjalan menghadapinya sendiri. Terlanjur sesumbar bahwa aku bisa meng-handle semuanya hingga jadwal cetak kuperkirakan akhir bulan.

            Dari belasan design cover, hampir seluruhnya aku yang buat sendiri karena adikku yang menyebalkan yang kumintai bantuan tak bisa diandalkan. Dua hari aku dibuatnya benar-benar tidak tidur sama sekali. Berkutat dengan 3 minggu yang penuh derita mendesign cover, seleksi naskah, editing, layout, dan blablabla. Ditemani lenguhan kecewa orang-orang yang merasa paling dirugikan di dunia karena buku PO-nya tak kunjung diterima. Lelah.

            Uang yang jika ditarik rata-rata perbulannya yang kukirim pada adikku hampir satu juta untuk biaya hidup dan kuliah di Jakarta, tiba-tiba saja mulai kuperhitungkan untuk enggan memberinya lagi. Kesal luar biasa saat mereka berbalik mendekatiku hanya di saat-saat butuh saja. Padahal aku sudah memberinya satu unit netbook juga agar lebih memudahkannya untuk membantuku membuat sebagian design cover, yang pastinya sulit kugarap sendiri mengingat tugas editing dan layout isi pun butuh waktu lama. Menggaji freelance? Hah, kantongku belum cukup untuk jadi juragan. Selain karena faktor aku tak begitu mudah puas dengan hasil orang lain.

            Air di mataku kian deras, rasa kesal dan marahku kian meluar biasa. Kian kuintenskan pula tiap regukan pada si pekat pahit. Sama pahitnya dengan nasibku. Sama pekatnya dengan deritaku.

            Ceracau tagihan pengiriman paket PO dari customer, sikap menyebalkan adikku yang sama sekali tak bisa diandalkan, hilangnya tulisan dan design-design cover-ku karena netbook yang berhari-hari tak kumatikan tiba-tiba error. Berkoalisi menjadi satu paket lengkap yang sukses mengoyak-koyak isi lambungku. Lantas kumuntahkan isinya yang penuh kopi, ke dalam cangkir yang masih berisi kopi.

Tangisku yang semula hanya berwujud linangan airmata, kini mulai diiringi isakan memilukan. Sedih dan jengkel, kolaborasi rasa yang tak jarang membuatku putus asa. Seperti melihat malaikat maut yang sudah mengintai dari segala sudut kamar kosku yang mungil.
Tuhan, aku tak berlebihan, kali ini benar-benar lelah....

Kamis, 19 Desember 2013

Cerpen: Kerdus Merah

Kerdus Merah
Boneka Lilin
            “Perlu lu tau,” aku menjambak rambutnya dari belakang. Rambut berwarna coklat tua yang sering dikoarnya jauh lebih baik kibasannya dibanding kibaran kerudung merahku. “Gue pake kerudung bukan sebagai pengakuan diri kalo gue udah jadi cewek SEMPURNA!” teriakku geram tepat di cuping telinganya yang bertindik tiga.
            “Aaarg, haaah... cewek gila! Saiko!” aaagh!” Dia mengerang, terus menyeracau tak jelas. Aku puas, sangat puas. Puas luar biasa. Tangannya menggapai-gapai, memukul-mukul tanganku agar lepas dari pagutan pada rambutnya.
            “Dengerin gue, Sialan! Sekarang waktunya gue yang ngebacot, dan lu mingkem! Masih kurang aja lu, hah, dari dulu selalu grusuhin hidup gue?! Gantian, BOSS!” kujengkut kepalanya dengan frontal, wanita binal yang menyebalkan itu kembali menyalak-nyalak. “Huahaha, gue puas banget! Puas bisa punya kesempatan buat nyumpal bacotan busuk lu!”
            “Aaa... hikhiks, lu bener-bener... SAKIT! Sakit jiwa! Aaargh!”
(
            “Pake kerudung cuma buat buat nutupin kebusukan. Apa namanya kalo bukan KERDUS! Hahaha, kerudung dusta!” Lagi-lagi dia—sosok menyebalkan dengan tumit berjinjit dan gincu merah terang itu—menghujat kerudung merah yang sejak awal kuliah sudah bertengger di kepalaku.
            “Masih mending kayak kit, dong! Gak munafik. Sok mau keliatan alim, padahal...” temannya yang berambut ikal melirik sinis saat aku tepat lewat di depan bangku yang ditempati gengnya.
            Sekuat tenaga aku berusaha untuk menulikan sistem indera pendengar, mengebaskan sistem indera perasa, menganggap cibiran mereka layaknya gonggongan anjing gila yang tak pantas dapatkan respon. Meski hatiku tetap sulit memungkiri, bahwa ada segumpal dendam yang tertanam di kedalaman sana.
(
            “Gue pake kerudung bukan karena gue mau keliatan sok alim! Tapi karena gue sayang sama bokap gue!” napasku menderu setelah menampar wajah culas dan menyebalkan itu dengan ayunan medium. Dia menjerit-jerit dengan frekuensi lebih, aku tetap abai.
            Kurampas tas yang sedari tadi kuat digenggamnya. Tas mahal dengan merk Prada itu kuobrak-abrik isinya. Benar saja, seperangkat alat lenong lantas silih berjejalan keluar. Kuambil lipstik berwarna merah terang kepunyaannya.
            “Lu selalu ngehina penampilan gue, lu selalu ngritik dandanan gue, kerudung merah gue! Sekarang gue pengen kasih liat sama lu, sekalian gue praktekin karena gue gak cuma pinter bacot kayak lu, gimana penampilan yang COCOK buat cewek iblis macam lu!”
            Dia kian meronta saat lipstik merah itu kupoleskan serampangan di bibirnya, lalu di lingkaran matanya, di pipinya. Dia menatapku penuh kebencian yang kubalas dengan sorot penuh kemenangan.
            “Tunggu pembalesan gue! Tunggu pembalesan gue buat lu, KERDUS MERAH!” dia berteriak sambil meraung tak jelas. Aku terbahak puas.
            “Gak ada pembalasan untuk pembalasan, Bego! Lu yang duluan ngusik gue, dan ini secuil balasannya! Hahaha...”
(
            “Woy, KERDUS! Minggir, dong! Lu kira ini kantin punya Embah Moyang lu!” si gincu merah mendorong tubuhku dengan cukup keras, es teh yang kupegang menyiprat ke sepatunya.

            “Eh, sialan nih anak. Cari perkara ngotorin sepatu malah gue!” aku mengerang saat jari-jemari lentiknya menjambak belakang jilbabku.

Minggu, 17 November 2013

Cerpen; Talk to My Middle Finger

Seseorang me-mention nama akun facebook-ku dalam komentar di sebuah posting-an yang ada dalam salah satu grup. Aku mengernyit heran sebelum meng-klik untuk mencari tau ada urusan apa orang-orang di grup “aneh” itu menyeret namaku. Hal itu membuat aku sadar kalau aku belum sempat mengeluarkan diri dari grup tersebut setelah seseorang yang tak kukenal pasti meng-invite-ku ke sana tanpa izin—seperti umumnya sebuah grup.

Aku memang typikal orang yang malas bergabung dengan banyak grup. Sebagai seorang penulis, berbagai grup kepenulisan yang kini kuikuti pun sangat kuseleksi. Daripada hanya nyepam notification, lebih baik aku memilih beberapa grup saja yang kurasa benar-benar bermanfaat untukku. Dan grup aneh itu sama sekali tak termasuk ke dalam list grup berkualitas apalagi bermanfaat bagiku.

Saat tanganku mulai men-scroll mouse, wajahku mengeras melihat komentar-komentar yang muncul dari banyak anggota yang—demi Tuhan—sebagian besarnya tak kukenal sama sekali. Komentar yang bermula dari seseorang yang mengutip salah satu quote di novel terbaruku, yang kemudian beranak pinak dan melenceng ke luar tema.

Aku masih bisa hidup tanpa kamu, tapi yang kumau adalah hidup yang di dalamnya ada kamu. –Deera Ita, Sebelah Hati-

Tulis seseorang dengan nama akun Aznia Azkia Luppi, yang ternyata merupakan tanggapan dari posting-an admin grup tersebut yang kurang lebihnya menanyakan quote paling terfavorit dari buku yang pernah dibaca.

Tak disangka, berselang beberapa komentar setelahnya, seorang provokator yang mengaku pada anggota grup tersebut merupakan teman SMA-ku selama tiga tahun berturut-turut, justru menyulut api kebencian yang kemudian diperparah dengan guyuran bensin dari salah satu anggota lain yang sama sekali tak pernah kukenal, baik di dunia maya apalagi di dunia nyata.

Aznia Azkia Luppi, si Deera Ita penulis buku itu, kan, dulunya satu SMA, loh, sama aku. 3 tahun kami sekelas, tapi sekarang... gila, sombong banget!

Tulis akun dengan nama Fita Fiti Futu, provokatif dan sangat melenceng dari pembahasan isi posting-an. Dan setelahnya, kontan namaku menjadi headline. Orang yang tak mengenalku, kemudian banyak yang tiba-tiba mengaku mengenalku. Orang yang bahkan tak pernah bertegur sapa di dunia maya pun, secara lancang bisa menyimpulkan kalau aku memang orang sombong hanya dengan melihat update-an statusku.

Oh, si Deera Ita itu. Emang dari status-statusnya juga udah bisa keliatan, sih, kalo dia itu orangnya sombong.

Tulisan superbodoh dari seseorang yang tak kukenal dan tak ingin kukenal. Akun bernama Anengnong Nizta yang bahkan ku-konfirmasi permintaan pertemanannya pun setelah dia memohon-mohon di inbox facebook agar aku mau menjadikannya masuk ke dalam friend list.

SO FUNNY! Ketika aku butuh waktu puluhan tahun untuk benar-benar mengenal siapa dan seperti apa diriku, orang-orang itu dengan sok taunya merasa paling mengetahuiku—seolah aku terlahir dari muntahannya!

Wajahku kian mengeras, dengan tangan gemetar karena menahan marah, kuluapkan emosiku. Aku bukan orang baik seperti mereka, yang bisa bersabar untuk mengabaikan pengusiknya dalam pembiaran yang nyaman. Terus memberi kesempatan bagi mulut-mulut berbisa itu untuk menyemburkan buih kebencian hingga mereka bosan. Tidak, itu sangat bukan aku. Saat ada orang yang menoyor kepalaku, aku akan menepisnya. Mencengkram tangannya dan memperingatkannya dengan keras kalau aku tidak suka dengan apa yang dilakukannya padaku.

@Fiti yang TERHORMAT. Saya tidak tau kamu ada masalah apa dengan saya. Saya tidak tau kapan kamu menyapa saya dan saya diam saja—hingga akhirnya kamu menyebarkan opini publik kalau saya ini sombong. Saya tidak tau. Yang saya tau, saya tidak pernah dan tidak ingin memiliki urusan dengan orang seperti kamu—terlebih setelah ini. Dan yang perlu kamu ingat, orang yang katamu SOMBONG ini, masih sangat hapal mati kalau kita hanya sempat satu kelas selama 2 tahun di SMA—kelas 1 dan 2, bukan 3 seperti yang kamu gemborkan.

Tulisku dengan caps lock pada kata “terhormat”, sebuah ironi yang sengaja kulakukan. Aku marah, namun harus tetap menunjukkan cara elegant dalam meluapkannya.

Well, aku dan orang menyebalkan yang tiba-tiba muncul di hadapan publik dengan mengaku sebagai teman SMA-ku itu, masih kuingat jelas hanya sempat satu atap dalam 2 tahun masa ajaran sekolah. Bahkan aku masih sangat hapal bagaimana dulu teman-teman sering mem-bully-nya. Gadis pendek dan berperawakan tambun namun memiliki kadar kenarsisan berlebih—hingga terkesan menyebalkan bagi para teman-teman cowok.

Aku pun masih ingat bagaimana dulu aku cukup sering membelanya yang kerap diejek dengan sebutan “Gentong Amerika” oleh salah seorang teman cowok yang kutau juga ada hati padaku, hingga tak jarang hal itu mengundang tawa ejekan dari yang lain. Aku memarahi anak itu setelah tak sengaja melihat si Fiti mengelus dadanya sambil berkata “Sabar” pada dirinya sendiri.

Aku memang merasa tak begitu dekat dengannya, tapi aku pun yakin kalau aku tak pernah merasa punya masalah dengan dia. Kecuali kalau memang dia sendiri yang merasa bermasalah denganku. Yang kutau—buah kata salah satu seniorku—setiap orang yang sudah dianggap “tinggi”, memang akan selalu menemukan kerikil dari orang-orang yang dengan segala upaya berusaha untuk menimbulkan cela. Tak berlebih jika kukatakan apa yang dilakukannya bisa mematikan pasaranku sebagai penulis.

@Anengnong Sang Pakar PENGAMAT. Sebelumnya, bisa tolong ingatkan saya kapan dan di mana kita pernah saling mengenal? Karena jujur saja, sebelumnya saya merasa tidak pernah mengenal Anda. Dan hal itu yang kemudian membuat saya bingung luar biasa, atas dasar apa Anda bisa mengeluarkan statement kalau Anda bisa tau kepribadian saya hanya dengan melihat update-an status facebook? Yang padahal juga isinya hanya seputar kegiatan saya atau quote-quote yang ada di buku-buku saya.

Sekian menit kutunggu, tak ada respon apa pun dari dua orang yang bersangkutan. Entah mereka memang sedang tak online, atau mereka masih shock karena yang kukira sepertinya mereka tak tau kalau aku pun menjadi salah satu anggota grup ANEH itu.

Bagi kalian, sekarang ini keberadaan saya mungkin tak ubahnya seperti titik hitam kecil di hamparan kain berwarna putih. Namun jangan lupakan satu hal, Tuhan Maha Membolak-balikkan Keadaan. Mana tau orang yang sekarang menurut kalian tak ada pentingnya sama sekali ini, justru akan menjadi orang yang sangat kalian butuhkan untuk dimintai pertolongan di masa esok. Hukum alam itu berlaku.

Tutupku sebelum kemudian mengeluarkan diri dari grup penebar ghibah dan desas-desus itu. Mencoba mengabaikan celetukan-celetukan komentar tak penting dari para anggota lain.

Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga akhirnya berbilang tahun, tak kudapatkan kepastian respon dari mereka berdua. Atau bahkan sekadar permintaan maaf karena telah membiarkan orang lain bergunjing di “rumahnya” pun tak dilakukan oleh si Admin yang kerap menyertakan gelar pendidikannya di akhir posting-an.

Yang kulakukan setelah keluar dari grup itu adalah segera meng-hide akun Fiti—sengaja aku tidak me-remove atau mem-blokirnya, aku ingin membuat dia semakin gerah dengan posting-an berbagai keberhasilan yang akan kuraih dan kupersembahkan khusus bagi orang yang sangat “perhatian” semacam dia. Sementara untuk akun orang dengan nick name Anengnong Nizta, langsung kublokir tanpa ampun. Muak rasanya membiarkan penjilat menyesaki friend list-ku.

Sekali lagi kutegaskan, aku bukan orang baik bagi orang yang gemar “mengusikku”.

Sabtu, 16 November 2013

Cerpen; Ayah?

Dentangan itu masih serupa dengan kali pertama aku menikmati dengarnya. Tetap mendayu, menyesap luka yang merembes di sekelilingnya untuk turut melarung kisi-kisi duka bersama liukan melodi. Aku menikmati, meski dalam kediamanku yang kerap merajai.

Lelaki berjambang itu, yang memiliki potongan rambut paruh burung pelatuk, tanpa disadarinya telah menjadi teman setiaku dalam melewati masa-masa sulit di perasingan. Suatu tempat antah berantah, yang aku dilempar ke dalamnya. Demi keberlangsungan hajat hidupku yang hanya tinggal separuh-separuh putaran waktu.

Aku menyibakkan rambut pirangku yang masai. Setelah merapihkan letak topi yang menutupi benjolan tak lazim di puncak kepala, aku kembali membenamkan diri bersama dentangan itu. Melesakkan setiap makna yang dialunkannya, hingga palung hati terdalam. Terkadang aku harus berpura-pura mencari karang atau mengejar rumput lari di sepanjang pesisir pantai, agar bisa memiliki alasan lebih lama berada di dekatnya, si lelaki kulit hitam pemetik senar gitar.

Entah kenapa, aku merasa ada suatu perasaan aneh yang menggagahi hatiku, setiap berada di jarak tak kurang dari lima meter dari lelaki yang namanya saja tak kudeteksi itu. Bahkan seraut rupanya pun terlampau sulit untuk kubingkai dalam mimpi di malam-malamku yang mengelabu. Dia begitu asing, namun terasa dekat dan mendamaikan. Aku seolah telah mengenalnya seumur hidup.

Aku masih tetap memaku diri untuk berdiri di tepian pantai ini, terkesan tak mengacuhkan dentangan malaikat itu dengan terus memunggunginya. Sesekali aku berusaha beralibi, mencari kesibukan dengan mempermainkan anak-anak pasir yang terhampar di bawah kakiku, hanya agar lelaki itu tak curiga, bahwa aku tengah menikmati pesonanya.

Satu detik berikutnya, alunan itu tiba-tiba tertelan deru angin dan menghilang. Bersamaan dengan suara bariton berat yang menyapaku dari belakang.

“Eleanor?”

Aku memutar kepalaku 120 derajat. Mataku membeliak kaget. Dari mana dia tau namaku? Aku menghadapnya, senyuman canggung yang lebih mirip seringai langsung menjamuku dari rautnya.

“Kau siapa?” Tanyaku defensif dan mulai membangun benteng pertahanan. Kalau-kalau lelaki yang beberapa menit lalu sempat kukagumi ini berniat asusila.

“Bagaimana kesehatanmu? Apa kau merasa sakit di sini?”

Segera kutepis tangan besarnya yang hendak menjamah topi yang melindungi kepalaku. Sorot mataku memandang nyalang, menuntut penjelasan panjang atas tindakan berlebihannya sebagai orang yang tidak kukenal.

“Maaf, maafkan aku. Kau pasti sangat menderita, Elle. Maafkan aku yang belasan tahun melepas tanggungjawab atas nyawamu, Nak.”

Lelaki kulit hitam di depanku itu mulai terisak. Menyanyat sisi sensitifku untuk turut menumpahkan buncah airmata. Namun kepingan-kepingan otakku masih tercecer, bagai puzzle yang sedang kuusahakan keras untuk menyusunnya. Aku terlalu sulit mencerna kata demi kata yang meretas getas dari bibir legamnya. Siapa dia? Siapa aku baginya?

Cerpen; Balada Singkong Balado

Lagi. Seseorang telah memasuki kamarku! Telapak kakinya yang besar-besar terlihat menjejak di hampir seluruh lantai pada ruang pribadiku.

Ini menjadi kali ketiga kamar hunianku dibobol seseorang, tanpa meninggalkan cacat apa pun pada engsel pintu. Awalnya aku berspekulasi ini hanyalah ulah konyol sebagai sambutan “selamat datang” dari para penghuni asrama, namun semua menjadi terasa tak biasa saat kusinggung perihal ini pada mereka satu persatu.
elinsholihat.blogspot.com

“Pikir pake logika, dong! Mana ada anak asrama yang punya telapak kaki segede gaban gitu.” Lucy mengibaskan tangannya dengan jengah, seraya pergi meninggalkan kamarku.

Untuk beberapa detik pertama, aku turut mengamini. Tapi pada putaran waktu berikutnya, aku kembali memainkan spekulasi-spekulasi dalam nalarku sendiri.

‘Pasti ada seseorang yang sedang mengerjaiku.’ Gumamku sambil menyampirkan lap basah yang kupakai untuk membersihkan noda jejak misterius itu.

Merasa gagal menyeret satu persatu teman asramaku untuk mengakui perbuatan yang mungkin dilakukan oleh salah seorang dari mereka, aku menekadbulatkan diri untuk menyelidiki misteri ini secara diam-diam. Aku benci jika ada orang yang melakukan lelucon menyangkut area pribadiku.
*
Mulutku menganga lebar. Airmata menderas di pipi yang membingkai wajah pucatku. Tenggorokan bagai mencekat setiap untaian kata yang ingin kuteriakan, jerit suara hanya mampu bergaung di dalam relung-relung perutku.

‘Tuhan, aku takut.’ Aduku dalam hati, seraya merutuki segala ketololanku yang telah berani-beraninya menjalankan aksi pengintaian pada malam Selasa Kliwon.

Sekuat tenaga aku berusaha mengkerdilkan badanku, agar tetap aman dari jangkauan pandang makhluk berbulu lebat yang kini tengah menggagahi meja belajarku. Betis kakinya yang cebol namun besar nampak menjuntai di depan wajahku yang teronggok pucat di kolong tempat tidur.

Lamat-lamat kurapalkan sederet doa yang sekiranya masih terlintas dalam ingatanku. Memohon belas kasih Tuhan agar sudi memberiku kesempatan untuk masih bisa menikmati pancaran matahari esok pagi.

Entah kenapa aku sampai tak menyadari kedatangan makhluk ini di setiap malam-malam lelapku. Yang padahal kini kusaksikan sendiri, bagaimana ributnya mulut mengerikan itu mengunyah sesuatu.

Krauk... krauk...
Glek... glek... glek...
Aaahhh...

Ya Tuhan, dia minum dari tekoku! Dengan cangkir Hello Kitty kesayanganku! Tiba-tiba aku merasa sangat bersalah pada Aury, adik kecilku. Dia sampai menangis karena menginginkan cangkir berwarna pink keputih-putihanku, namun dengan tanpa perasaannya aku membawa cangkir itu ke asrama agar tidak terkontaminasi oleh bekas mulut selain mulutku.

Airmataku kembali mengalir, kali ini semakin menderas. Aku ingat Bunda, Yanda, dan Aury. Aku takut berada di sini sendirian. Aku ingin pulang dan bergumul dalam dekap peluk mereka.

Pelan-pelan, kutengadahkan wajah yang semula kutangkup di antara kedua tanganku yang menyilang. Dalam posisi tengkurap ini, aku mencoba menajamkan pendengaranku. Suara kunyahan itu telah lenyap. Aku seperti terdampar dalam dimensi lengang yang di dalamnya hanya ada aku dan... deru napas memburu dari sesosok makhluk yang kini tepat berada di depan wajahku. Mulutnya menyeringai, seperti berusaha tersenyum. Sisa-sisa makanan yang tengah dikunyah berloncatan keluar dari sela-sela giginya yang jarang.

“Mau?” tawarnya, menyodorkan satu kaleng berisi singkong balado. Aku ingat, keripik itu dibawakan Bunda sebelum aku berangkat ke asrama.


Kabut di mataku makin pekat dan menghalangi pandangan, saat makhuk besar itu berusaha menyuapkan singkong balado ke mulutku yang mengatup. Setelahnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.

© Born to be "Antagonis" 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis