Sabtu, 16 November 2013

Cerpen; Balada Singkong Balado

Lagi. Seseorang telah memasuki kamarku! Telapak kakinya yang besar-besar terlihat menjejak di hampir seluruh lantai pada ruang pribadiku.

Ini menjadi kali ketiga kamar hunianku dibobol seseorang, tanpa meninggalkan cacat apa pun pada engsel pintu. Awalnya aku berspekulasi ini hanyalah ulah konyol sebagai sambutan “selamat datang” dari para penghuni asrama, namun semua menjadi terasa tak biasa saat kusinggung perihal ini pada mereka satu persatu.
elinsholihat.blogspot.com

“Pikir pake logika, dong! Mana ada anak asrama yang punya telapak kaki segede gaban gitu.” Lucy mengibaskan tangannya dengan jengah, seraya pergi meninggalkan kamarku.

Untuk beberapa detik pertama, aku turut mengamini. Tapi pada putaran waktu berikutnya, aku kembali memainkan spekulasi-spekulasi dalam nalarku sendiri.

‘Pasti ada seseorang yang sedang mengerjaiku.’ Gumamku sambil menyampirkan lap basah yang kupakai untuk membersihkan noda jejak misterius itu.

Merasa gagal menyeret satu persatu teman asramaku untuk mengakui perbuatan yang mungkin dilakukan oleh salah seorang dari mereka, aku menekadbulatkan diri untuk menyelidiki misteri ini secara diam-diam. Aku benci jika ada orang yang melakukan lelucon menyangkut area pribadiku.
*
Mulutku menganga lebar. Airmata menderas di pipi yang membingkai wajah pucatku. Tenggorokan bagai mencekat setiap untaian kata yang ingin kuteriakan, jerit suara hanya mampu bergaung di dalam relung-relung perutku.

‘Tuhan, aku takut.’ Aduku dalam hati, seraya merutuki segala ketololanku yang telah berani-beraninya menjalankan aksi pengintaian pada malam Selasa Kliwon.

Sekuat tenaga aku berusaha mengkerdilkan badanku, agar tetap aman dari jangkauan pandang makhluk berbulu lebat yang kini tengah menggagahi meja belajarku. Betis kakinya yang cebol namun besar nampak menjuntai di depan wajahku yang teronggok pucat di kolong tempat tidur.

Lamat-lamat kurapalkan sederet doa yang sekiranya masih terlintas dalam ingatanku. Memohon belas kasih Tuhan agar sudi memberiku kesempatan untuk masih bisa menikmati pancaran matahari esok pagi.

Entah kenapa aku sampai tak menyadari kedatangan makhluk ini di setiap malam-malam lelapku. Yang padahal kini kusaksikan sendiri, bagaimana ributnya mulut mengerikan itu mengunyah sesuatu.

Krauk... krauk...
Glek... glek... glek...
Aaahhh...

Ya Tuhan, dia minum dari tekoku! Dengan cangkir Hello Kitty kesayanganku! Tiba-tiba aku merasa sangat bersalah pada Aury, adik kecilku. Dia sampai menangis karena menginginkan cangkir berwarna pink keputih-putihanku, namun dengan tanpa perasaannya aku membawa cangkir itu ke asrama agar tidak terkontaminasi oleh bekas mulut selain mulutku.

Airmataku kembali mengalir, kali ini semakin menderas. Aku ingat Bunda, Yanda, dan Aury. Aku takut berada di sini sendirian. Aku ingin pulang dan bergumul dalam dekap peluk mereka.

Pelan-pelan, kutengadahkan wajah yang semula kutangkup di antara kedua tanganku yang menyilang. Dalam posisi tengkurap ini, aku mencoba menajamkan pendengaranku. Suara kunyahan itu telah lenyap. Aku seperti terdampar dalam dimensi lengang yang di dalamnya hanya ada aku dan... deru napas memburu dari sesosok makhluk yang kini tepat berada di depan wajahku. Mulutnya menyeringai, seperti berusaha tersenyum. Sisa-sisa makanan yang tengah dikunyah berloncatan keluar dari sela-sela giginya yang jarang.

“Mau?” tawarnya, menyodorkan satu kaleng berisi singkong balado. Aku ingat, keripik itu dibawakan Bunda sebelum aku berangkat ke asrama.


Kabut di mataku makin pekat dan menghalangi pandangan, saat makhuk besar itu berusaha menyuapkan singkong balado ke mulutku yang mengatup. Setelahnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.

0 Tanggapan:

Posting Komentar

Respon koment akan disesuaikan dengan isi koment. No SPAM, RASIS, HUJATAN, dsj. Merci.... :)

© Born to be "Antagonis" 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis